#UlasanBuku + Giveaway • Besali – Shabrina Ws

“Sekali ditinggalkan, kau bisa bilang rindu. Dua kali kehilangan, kau hanya mendekap sendirian perasaan sedihmu.”
Hlm. 55

Judul: Besali

Penulis: Shabrina Ws

Penyunting: Avifah Ve

Penerbit: Laksana

Cetakan: Pertama, 2019

Tebal: 292 hlm.

Harga: Rp68.000,00 (P. Jawa)

Seperti itulah yang dialami oleh Lohita Sasi. Setelah ibunya meninggal, kini ayahnya pun menyusul kepergian ibunya, yang membuat kekosongan di hatinya demikian terasa.

Masalahnya tidak berhenti di sana. Ayahnya meninggalkan surat wasiat yang disimpannya di bawah bantal. Melalui surat itu, ayahnya meminta Lohita untuk menjaga besali supaya tetap hidup.
Oh ya, besali itu merupakan bengkel pandai besi atau tempat kerja pandai besi. Besali milik ayah Lohita merupakan besali yang terkenal di daerah Pacitan, yang sudah diwariskan turun-temurun dan memuaskan para pelanggannya.

Bagaimana seorang gadis yang kesehariannya berkutat dengan toko buku kecilnya dapat menghidupkan besali? Kenapa dirinya yang diberi wasiat itu, bukan tiga kakak laki-lakinya yang kini tinggal dan bekerja di luar kota? Yah, meskipun Lohita tahu bahwa ketiga kakaknya memutuskan untuk tinggal dan bekerja di luar kota karena tidak berminat untuk menjadi pandai besi.

Yang mengusik hati Lohita juga, ayahnya menyebutkan nama Sapta dalam surat wasiatnya. Nama lelaki yang dihindari oleh Lohita dalam kurun waktu yang cukup lama ini sebenarnya adalah anak buah ayahnya yang paling ahli mande dan sudah dikenal bagus pekerjaannya. Tapi untuk menghubunginya, Lohita harus berpikir berkali-kali setelah sekian lama dia menjauhi laki-laki itu. Apa, sih, yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua?

Jika hidup diibaratkan musim, Lohita telah kehilangan peneduh sejak ayahnya meninggal. Lantas, bagaimana dia akan mendapatkan peneduh dalam segala musimnya? Tempat berteduh pada saat terik matahari membakar kulit dan saat hujan menghunjam dengan dinginnya? Apakah Sapta? Ataukah Rey, penyair yang sering mengisi waktu luangnya di toko buku Lohita?

***

Ini merupakan kali pertama saya membaca karya Mbak Shabrina Ws, meskipun nama beliau sudah tidak asing lagi bagi saya karena karya bukunya yang sudah banyak dan diterbitkan oleh beberapa penerbit. Saya menyukai kata-kata yang dijalinnya: sederhana dan sedikit puitis. Keindahan kata-katanya jadi terasa pas dan tidak membuat gumoh.

Menurut saya, cerita dalam novel ini juga begitu lembut terjalin. Bukan tipe novel dengan konflik meledak-ledak, akan tetapi bisa menyentuh saat membacanya.

Melihat judulnya, saya kira akan banyak menjumpai proses-proses dan kegiatan di balik besali. Memang ada pembahasannya, tapi tidak banyak, hanya menyesuaikan dengan kebutuhan cerita saja.

Banyak sekali pesan moral yang bisa saya ambil setelah membaca novel ini, baik yang tersurat maupun tersirat. Ada yang melalui jalinan kisahnya, ada pula yang ada dalam kutipan tiap awal bab yang tentu saja berkaitan dengan alur kisahnya.
Novel ini juga tidak melulu tentang Lohita, tetapi juga tentang lingkungan sekitarnya yang dapat memberikan inspirasi kepada para pembacanya, terutama tentang keluarga, kehilangan, dan perjuangan hidup yang bisa membuat hati hangat.

PENGUMUMAN PEMENANG

Selamat untuk Ahmad Azwar Aa! Kamu memenangkan satu eksemplar novel Besali dari Laksana Fiction. Segera DM-kan nama, alamat, dan nomor HP ke Twitter atau IG saya, ya. 🙂

Iklan

#UlasanBuku • Dice Roll – Nisa Rahmah

Apakah kamu suka membaca buku di platform menulis seperti Wattpad, Storial, Cabaca, dan sejenisnya? Kali ini, saya akan sedikit mengulas sebuah novel yang dituliskan di Storial untuk kompetisi menulis novel bertajuk #HappyGirl.

Judul: Dice Roll

Penulis: Nisa Rahmah

Genre: Teenlit

Saya membaca buku ini tanpa benar-benar memahami apa yang disampaikan dalam blurb. Tiga bab awal, saya merasa biasa saja. Namun, dua kali membaca buku Kak Nisa sebelumnya membuat saya yakin bakalan ada sesuatu yang istimewa. Dan itu terbukti di bab-bab selanjutnya, yang membuat saya tak bisa berhenti membaca sampai selesai 35 bab.
⁣⁣
Novel ini berkisah tentang Avilla yang mempunyai ketakutan dalam mengambil keputusan, sehingga dia bergantung pada dadu. Hal ini terjadi tentu dengan penyebab besar. Suatu hari, ada seorang cowok yang secara tidak sengaja mengetahui rahasia besar Avilla. Cowok yang kemudian membuat Avilla jatuh cinta, tetapi dia merupakan kekasih gelap seorang cewek populer di sekolah. Kejadian ini membuatnya terjebak dalam cinta segi-empat yang penuh toxic.⁣⁣
⁣⁣
Konflik percintaannya mungkin sudah biasa banget untuk novel teenlit, tapi ada beberapa hal yang saya suka banget tentang novel ini:⁣⁣
⁣⁣
1. Unsur persahabatan dan kekeluargaan dalam novel ini kuat banget. Saya merasakan kehangatan persahabatan Avilla-Laiva-Tama sejak awal membaca novel ini. Interaksi keluarga Avilla juga terbilang cukup hangat meskipun hanya mengambil beberapa scene pendek.⁣⁣
⁣⁣
2. Untuk teenlit lokal, adanya klub Let’s Speak Up! ini merupakan suatu kesegaran bagi saya. Entah saya yang kudet atau gimana, karena saya baru tahu ada klub semacam ini di sekolah. Hal ini bisa jadi inspirasi untuk menciptakan wadah di mana setiap orang mau bercerita dan mendengarkan tanpa adanya penghakiman. Hal ini tentu dapat mengurangi tingkat depresi dan keinginan bunuh diri dalam kalangan remaja.⁣⁣
⁣⁣
3. Baru kali ini saya membaca novel yang tokohnya adalah pemain anggar. Hal ini juga membuat saya yang buta anggar, jadi tahu sedikit-sedikit tentangnya.⁣⁣
⁣⁣
4. Karakter tokoh-tokohnya kuat banget, terutama tokoh-tokoh utamanya. Celetukan Laiva dalam setiap percakapan ini kadang bikin senyum-senyum sendiri.⁣⁣
⁣⁣
5. Banyak pesan moral yang bisa saya ambil dari kisah dalam novel ini, tetapi yang paling jleb adalah bahwa kita adalah penentu kebahagiaan sendiri. Di antara caranya adalah dengan tidak membohongi diri sendiri, memaafkan diri sendiri, dan fokus terhadapa orang-orang yang dengan tulus menyayangi kita.⁣⁣

Saya berharap semoga buku ini bisa diterbitkan dalam bentuk buku fisik. Banyak hal yang dapat membantu remaja dalam membentuk karakter yang kuat, tangguh, dan bahagia dalam menjalani kehidupan ini.

Pengin baca buku ini? Silakan baca di https://www.storial.co/book/dice-roll-1 ya. Akun Storial saya @nvqds (A.A. Muizz), FYI. Siapa tahu kamu mau follow. Hehehe.😁😁😁⁣⁣

Jika kamu belum punya akun Storial, daftar aja! Caranya mudah banget kok, cukup pakai alamat surel atau Facebook aja. Lalu kamu bisa membaca karya-karya para Storialis sepuasnya. 😊😊😊

#UlasanStorial #THRStorial

#UlasanBuku • Kisah Tanah Jawa: Ensiklopedia Mitos dan Mistis dalam Balutan Sejarah di Tanah Jawa

Judul: Kisah Tanah Jawa
Penulis: Tim @kisahtanahjawa
Editor: Ry Azzura
Penerbit: Gagas Media
Tebal: vi + 250 hlm.
Rate: 17+

Apakah kamu mengikuti akun media sosial Kisah Tanah Jawa? Jika kamu mengikutinya, tentu sudah tahu tentang mereka.

Jadi, Kisah Tanah Jawa ini merupakan sebuah tim yang beranggotakan tiga orang, yaitu Mada Zidan, Hari Hao, dan Bonaventura D. Genta (yang tahun 2016 lalu telah menerbitkan buku horor yang sempat viral, Keluarga Tak Kasat Mata). Mereka bertiga melakukan investigasi untuk menguak kisah-kisah misteri yang penuh dengan sosok misterius, ritual mistis, dan tempat angker yang tak habisnya menjadi bahan pembicaraan di tengah-tengah masyarakat. Maka, inilah sebagian hasil investigasi mereka yang dibukukan dengan judul Kisah Tanah Jawa.

Lalu, gimana caranya mereka tahu ada sesuatu di tempat itu? Di antara mereka, ada Hari Hao yang berperan menjadi penyambung lidah antara mereka dengan yang tak kasat mata.

Buku ini dibuka dengan bab Napas Tiang Pancang yang menceritakan beberapa kisah misteri yang berkaitan dengan tumbal untuk bangunan-bangunan yang sampai kini masih ada. Salah satu bangunan yang diceritakan ada jembatan kereta api Sungai Serayu yang diyakini telah ditanam satu grup lengger (tayub) di salah satu pilarnya. Di sini, diceritakan bagaimana grup lengger asal Banyumas itu diundang oleh centeng suruhan pihak Staatsspoorwegen dengan dalih untuk selametan dan menghibur para pekerja proyek.

Mau percaya atau enggak, fondasi jembatan ini nggak menggunakan groundsill (silakan googling kalau belum tahu arti istilah ini) lho, tapi bisa bertahan sampai sekarang (100 tahun). Jika dipikir logika, ini jelas nggak masuk akal.

Selanjutnya, ada pembahasan mengenai berbagai macam penglaris dalam bab Penyedap Komposisi Dosa. Apa yang dijelaskan dalam bab ini, sering saya dengar dari kasak-kusuk masyarakat, termasuk ciri-ciri tempat makan yang penjualnya menggunakan penglaris. Namun, dalam bab ini dijelaskan dengan lebih mendetail. Ah, ada pula yang bikin parno, karena ternyata kadang penglaris itu menggunakan barang yang secara fisik sangat menjijikkan. Hiii.

Selain menglariskan dagangan sendiri, ternyata ada pula jasa untuk membuat warung lain sepi pengunjung. Warung yang kenyataannya buka, tetapi seperti terlihat tutup. Kalau ini, saya sendiri pernah mengalami. Ada tetangga yang lagi nyari anaknya. Anaknya sih main di warung saya, tapi kata tetangga saya, warung saya tutup. Jadi merinding sendiri pas baca bagian ini. Ternyata, saya pernah mengalami apa yang sebelumnya saya sangka nggak akan pernah saya alami.

Setelah bab tentang penglaris, masih ada pembahasan pesugihan dalam bab Harta Berujung Petaka dan tentang ilmu pelet dan pengasihan dalam bab Merapal Kata Terlarang.

Yang nggak kalah menarik, ada bab Kejawen dan Kedatangan Imperialisme: Awal Merebaknya Ilmu Hitam. Dalam sub-bab Kejawen, saya menemukan sebuah sudut pandang lain mengenai apa itu kejawen. Jika selama ini saya mengetahui bahwa kejawen itu merupakan bentuk persekutuan dengan makhluk halus, maka dalam bab ini pemahaman itu berhasil dijungkir-balikkan. Dijelaskan dalam bab ini bahwa Kejawen sejati tidak mengajarkan ilmu hitam yang digunakan untuk membuat orang lain menderita. Berbanding terbalik dengan yang selama ini ditayangkan di televisi maupun di film-film horor itu kan? Sederhananya, Kejawen dan klenik itu merupakan dua hal yang berbeda.

Lalu, dalam bab Kedatangan Imperialisme, saya menemukan fakta-fakta sejarah yang nggak pernah dituliskan dalam buku sejarah. Ternyata, para penjajah itu juga mempunyai hubungan erat dengan ilmu hitam dan hal-hal mistis. Contohnya, ada Daendels yang mempekerjakan dukun-dukun lokal yang membuatnya berani dan nggak takut kepada siapa pun, baik terhadap hal-hal gaib maupun para bangsawan yang mempunyai ilmu kanuragan. Dan masih banyak lagi fakta-fakta sejarah hubungan pemerintah kolonial dengan hal-hal mistis di Tanah Jawa.

Dalam bab Renungan, penulis menyimpulkan (sebagaimana tertulis di halaman 159) bahwa terkikisnya kejawen murni sehingga dianggap menjadi sebuah kebudayaan sesat karena peran besar imperialisme Barat yang sengaja membenamkan kebudayaan luhur para pendahulu agar jangan sampai bangsa ini menjadi bangsa yang besar, jangan sampai negara ini menjadi negara yang maju. Dan memang benar, kenyataan ini setidaknya telah membuat perpecahan dan kemalasan melanda bangsa ini.

Buku ini ditutup dengan banyak selali kisah dan wawasan tentang hal-hal mistis di Pulau Jawa yang disajikan dalam bab Kumpulan Cerita Misteri. Jangan mengira ini cerita fiktif ya, karena semua cerita ini juga merupakan hasil investigasi tim @kisahtanahjawa dengan menggunakan metode retrokognisi. Salah satunya, ada cerita tentang kuntilaki. Wah, ternyata ada kunti selain kuntilanak. Apakah kamu sudah tahu? Kalau belum, bacalah buku ini! Dan masih banyaaak lagi cerita-cerita urban legend dan sejenisnya yang terangkum dalam bab ini.

***

Buku ini sangat asyik dibaca dan sarat wawasan tentang hal-hal mistis. Membawa saya kepada perspektif lain tentang hal-hal yang sebelumnya sangat akrab namun asing buat saya.

Yang lebih menarik dan yang beda banget dengan buku-buku mistis lain, buku ini mengungkapkan fakta-fakta sejarah, bahkan sampai pada zaman penjajahan kolonial Belanda. Hal yang sangat baru buat saya.

Ilustrasi dalam buku ini juga juara banget. Sebagian berhasil membuat saya bergidik ngeri dan menutupinya saat membaca halaman sebelahnya. Salut!

Apa yang nggak saya suka dari buku ini? Secara keseluruhan, kayaknya nggak ada, deh. Hanya saja, kayaknya bakalan lebih menarik lagi jika diungkapkan proses-proses saat melakukan investigasi. Seperti, awal mulanya mereka melakukan investigasi ke suatu tempat, apakah dapat informasi dari seseorang, dapat bisikan dari roh halus, atau bagaimana. Oh, iya, ini masalah cetak aja sih. Ada beberapa halaman yang tulisannya tercetak ganda, mungkin karena ketidakpasan peletakan kertas saat dicetak atau gimana, yang jelas hasilnya jadi kabur gitu. Apalagi warna kertasnya yang kelam membuatnya agak susah dibaca jika membaca dalam ruang dengan cahaya redup.

Bagi kamu yang merindukan buku horor yang menguak fakta-fakta yang nggak biasa, termasuk fakta sejarah, buku ini sangat kurekomendasikan untukmu.

Rating: 4/5

#Artikel • RUU Permusikan dan Gejolak Jiwa Kaum Marginal

Musik merupakan sebuah fenomena yang sangat unik. Suatu karya seni yang terdiri dari susunan irama harmoni yang menjadi satu kesatuan. Efek yang ditimbulkan musik terhadap tubuh sangatlah tinggi. Ia bisa memengaruhi emosi seseorang. Membuat suasana hati berubah, baik secara emosi maupun sikap. Ia juga dapat meminimalisasi kecemasan, mengatasi mood yang hilang, memberikan energi posif terhadap otak, berpikir optimis, menjadikan tubuh rileks, tenang, dan nyaman.

Banyak ahli musik ternama mendefinisikan seni musik sebagai suatu karya yang muncul dari gejolak jiwa untuk menyampaikan rasa dalam bentuk irama dan melodi yang berbeda-beda. Ia merupakan ekspresi emosi dan suasana hati seseorang.

Dalam buku The Anatomy of Melancholy karya seorang sarjana Robert Burton pada abad ke-17 disebutkan bahwa musik memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mengusir penyakit, juga ampuh dalam melawan keputusasaan dan melankolia.

Namun, saat ini, permusikan Indonesia yang seharusnya mampu memberikan ‘kekuatan’, sedang dilanda ‘cobaan’. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya permintaan dan pengusulan dibentuknya Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan oleh Anang Hermansyah, seorang musisi sekaligus politikus dari Komisi X DPR RI. RUU Permusikan yang sedianya, seperti dikatakan Glenn Fredly selaku penggagas Konferensi Musik Indonesia (KMI), bertujuan agar tata kelola industri musik bisa lebih baik dan akhirnya memberikan manfaat kepada penggiat musik dan masyarakat sebagai konsumen, justru menuai kontroversi di antara kalangan musisi sendiri.

Setelah dikaji oleh berbagai unsur secara mendalam, ternyata terdapat 19 Pasal yang bermasalah di dalamnya, yaitu Pasal 4, 5, 7, 10, 11, 12, 13, 15, 18, 19, 20, 21, 31, 31, 33, 42, 49, 50, 51. Lebih dari itu, bahkan terdapat pasal yang tumpang tindih dengan beberapa Undang-Undang lain yang dimiliki pemerintah Indonesia, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Hak Cipta, Undang-Undang Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, dan Undang-Undang ITE.

Parahnya, RUU Permusikan ini sungguh bertolak belakang dengan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan serta bertentangan dengan Pasal 28 UUD 1945 yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dalam negara Indonesia yang demokrasi ini. Sehingga, hal ini menjadi pemicu permasalahan yang pelik di dunia musik Tanah Air akhir-akhir ini. Untuk itu, kami merumuskan pokok permasalahan yang muncul di tengah masyarakat terkait RUU Permusikan.

Hal yang paling menuai kritik dari para musisi terkait RUU tersebut adalah adanya klausul yang rentan menjadi ‘pasal karet’ atau pasal yang tidak mengenal batasan yang jelas. Pasal karet tersebut, salah satunya tertuang dalam Pasal 5 yang berisi beberapa larangan bagi para musisi, seperti larangan membawa budaya barat yang negatif, merendahkan harkat dan martabat, menistakan agama, membuat konten pornografi, hingga membuat musik yang provokatif. Sekilas, Pasal 5 ini terlihat positif. Namun, ketika ditelaah lebih lanjut, Pasal 5 ini memuat kalimat-kalimat yang cenderung bias dan multiinterpretasi, seperti kata menista, melecehkan, menodai, dan memprovokasi.
Jika Pasal 5 ini diterapkan (dengan ketentuan pidananya ada di dalam Pasal 50), dikhawatirkan akan menelan banyak korban. Hal ini disebabkan perbedaan interpretasi antara aparat penegak hukum dengan pencipta lagu. Dengan dibentuknya UU Permusikan, musik juga bisa dipolitisasi. Maka selain perbedaan interpretasi, bisa saja lirik sebuah lagu dipelintirkan, yang berujung dengan dipenjarakannya sang musisi yang menciptakan lagu tersebut.

Dengan demikian, musik yang membawa gejolak jiwa seperti tertulis di awal artikel ini pun menjadi terkekang, apalagi jika lagunya bernada provokatif dan bersinggungan dengan politik. Bisa saja Iwan Fals dengan lagu Bongkar, Efek Rumah Kaca dengan lagu Mosi Tidak Percaya dan Jalang, atau musisi-musisi lain yang mengungkapkan keresahan akan kondisi sosial politik di negeri ini, akan tersandung masalah, apalagi jika berhadapan dengan pemerintahan yang antikritik. Tampaknya, para perumus RUU Permusikan ini berusaha untuk menabrakkan logika dasar dan etika konstitusi Indonesia sebagai negara demokrasi. Hal ini mengingatkan kita pada masa kejayaan Orde Baru.

Selanjutnya, terdapat Pasal yang berupaya memarginalisasi musisi independen dan berpihak pada industri besar di mana mewajibkan sertifikasi bagi para pekerja dunia musik Tanah Air. Hal ini berindikasi pada kondisi riil bahwasanya sertifikasi itu sangat rentan terhadap marginalisasi, sehingga musisi yang tidak tersertifikasi cenderung bakal mengalami beragam kendala ketika bekerja di kancah musik Indonesia. Indikasinya, memaksakan kehendak dan mendiskriminasi kelompok tertentu yang dengan adanya uji kompetensi dan sertifikasi dalam RUU Permusikan tersebut, mewajibkan musisi untuk lulus ujian kompetensi dan memiliki sertifikat di bidang musik. Selain itu, kredibilitas tim yang melakukan sertifikasi juga rentan menghadapi beragam polemik dan perlakuan diskriminasi yang tentunya bisa berbahaya di masa depan.

Sertifikasi pekerja musik sebenarnya telah berlangsung di sejumlah negara. Akan tetapi, tidak ada satu negara pun yang mewajibkan semua pelaku musik melakukan uji kompetensi. Semestinya, sertifikasi itu sifatnya ialah “pilihan”, bukan “pemaksaan”.

Kondisi yang sungguh bertolak belakang, yaitu terdapat pada Pasal 10 yang mengatur distribusi karya musik melalui ketentuan yang hanya bisa dijalankan oleh industri besar. Kecenderungannya, Pasal ini berpengaruh buruk terhadap distribusi karya musik yang selama ini dilakukan oleh sejumlah musisi skala kecil dan mandiri. Dalam hal ini, keberpihakan pasal-pasal tersebut lebih berorientasi kepada industri musik besar dan memarginalisasi para pelaku musik skala kecil dan independen.

Lebih lanjut, mengenai informasi umum dan mengatur hal yang tidak seharusnya diatur, yaitu terdapat sejumlah Pasal redaksional yang tidak memiliki kejelasan tentang apa yang diatur dan siapa yang mengatur. Hal tersebut tertera pada Pasal 11 dan Pasal 15 yang hanya memuat informasi umum tentang cara mendistribusikan karya yang sudah diketahui dan sering dipraktikkan oleh para pelaku musik serta bagaimana masyarakat menikmati sebuah karya musik. Kecenderungannya, sejumlah Pasal ini tidak memiliki nilai lebih sebagai sebuah Pasal dalam peraturan setingkat Undang-Undang.

Demikian pula halnya dengan Pasal 13 yang memuat kewajiban menggunakan label berbahasa Indonesia. Yang perlu ditekankan di sini ialah penggunaan label berbahasa Indonesia di kancah musik Indonesia seharusnya tidak perlu diatur. Musisi, pencipta lagu, dan penggiat musik berhak untuk memilih sendiri bahasa yang tepat untuk mengekspresikan apa yang telah mereka ciptakan.

Setelah menilik fenomena terkini mengenai RUU Permusikan di atas, maka kami bersepakat untuk melakukan kajian mendalam. Berikut ini adalah poin-poin penting yang kami dapat paparkan untuk menyikapi kontroversi RUU Permusikan, yaitu terdapat kesalahan-kesalahan yang kami sebutkan di atas, yang menunjukkan kekurangpahaman para penyusun naskah RUU Permusikan tentang keanekaragaman potensi dan tantangan yang ada di dunia musik.

Dari dasar itulah, terdapat kelompok-kelompok komunitas permusikan berusaha keras untuk menolak Rancangan Undang-Undang Permusikan. Jika DPR RI dan pemerintah Indonesia ingin turut serta melindungi ekosistem musik di Indonesia, mengesahkan RUU ini adalah sebuah kebijakan yang sangat rentan untuk memadamkan kebebasan berkreasi dan berekspresi para penggiat musik di Indonesia ini. Harapannya, DPR RI dan pemerintah wajib untuk mendorong, mendukung sekaligus melindungi musisi, bukan sebaliknya.

Sumber: Instagram @fourtwntymusic

Saat ini, sejumlah koalisi pelaku musik di Indonesia berinisiatif untuk membedah sejumlah Pasal yang dianggap bermasalah di dalam RUU Permusikan tersebut sebelum secara resmi disahkan. Terlebih, situasi semakin mendesak, karena RUU Permusikan tersebut kini sudah memasuki Prolegnas Prioritas. Artinya, siap untuk dibahas sebagai salah satu Prioritas RUU yang segera akan disahkan. Dari informasi terbaru, peringkat RUU Permusikan sudah naik dari urutan 183 pada tahun 2018 menjadi urutan 48 di tahun 2019.

Untuk menggagalkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut agar tidak menjadi Undang-Undang ialah memberikan kritik kuat yang logis dan nyata. Bahkan bila perlu, diarahkan untuk menyusun RUU tandingan. Secara prosedural, untuk memberikan kritik kuat terhadap RUU, harus diawali dengan mengisi Daftar Isian Masalah (DIM) yang diatur oleh peraturan secara khusus. Dari berita yang beredar saat ini, terdapat koalisi pelaku musik yang sedang menyusun dan menyiapkan Daftar Isian Masalah (DIM) yang hendak diajukan terkait sejumlah Pasal di RUU Permusikan. Mereka berusaha keras untuk merangkai pernyataan sikap yang tegas untuk menolak RUU Permusikan hingga menjaring dukungan untuk menolak RUU Permusikan tersebut dengan cara menyertakan nama, institusi/kelompok musik, dan profesi di bidang musik di situs: http://www.change.org.

Merujuk permasalahan yang telah dibahas di atas, maka kami kira perlu dilakukan peninjauan ulang terhadap RUU Permusikan. Jika pun ingin dituangkan dalam bentuk perundang-undangan, mestinya dirancang sematang mungkin dan jangan sampai menuai kontroversi seperti saat ini. Jangan sampai niat untuk menyelamatkan industri musik Indonesia, justru mendatangkan petaka bagi industri itu sendiri, terutama pelaku musiknya.

Sebagai penutup, izinkan kami mengutip lirik lagu yang ditulis oleh seorang sufi, Jalaluddin Rumi, yang berjudul Lagu Seruling Bambu.

Sejak daku tercerai dari indukku rumpun bambu,
Ratapku membuat lelaki dan wanita mengaduh.
Kuingin sebuah dada koyak disebabkan perpisahan
Dengan itu dapat kupaparkan kepiluan berahi cinta.
Setiap orang yang berada jauh dari tempat asalnya
Akan rindu untuk kembali dan bersatu semula dengan asalnya.
Dalam setiap pertemuan kunyanyikan nada-nada senduku
Bersama mereka yang yang riang dan sedih aku berhimpun
Rahasia laguku tidak jauh daripada ratapku
Namun mana ada telinga mendengar dan mata melihatnya?

Betapa musik mampu menyembuhkan jiwa-jiwa kerontang. Semoga ada solusi atas RUU Permusikan yang kontroversial itu, karena musik adalah bahasa universal. Seni dan kreativitas adalah batasan itu sendiri.

Salam literasi dan selamat bermusik.

Sumber: Instagram @_katahatikita

Catatan:

Artikel ini dianggit oleh Boni Fasius, Jingga Lestari, Raida, dan A.A. Muizz guna mengikuti #katahatichallenge yang diselenggarakan oleh #katahatiproduction.

Sumber Referensi:

1. https://tirto.id/q/ruu-permusikan-t3B?&gclid=Cj0KCQiA14TjBRD_ARIsAOCmO9ZIIhrTUVgi0ILTJ1DM7sHhRjCv39lpOzFlAyxTyWzIqqrEaD5S_2AaAipAEALw_wcB

2.
http://chng.it/cVPLNZNZ

#FiksiKilat • Mandul

Setiap kali mendengar lagu Mandul yang dipopulerkan Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih, Intan langsung terlihat murung. Sebenarnya dia bukanlah penyuka musik dangdut, tetapi lirik lagu itu selalu dapat mengusik batinnya. Seperti cerita dalam lagu tersebut, Intan belum dikaruniai keturunan pada usia pernikahannya yang kesepuluh.

Raffi, suami Intan, justru geram tiap kali mendengar lagu ini, segeram tiap kali dia mendengar lagu EXO dari daftar putar Spotify milik istrinya. Bukannya dia tidak menyayangi istrinya, bukan pula tidak ingin memiliki anak, tetapi lagu-lagu itu terdengar seolah mengolok-olok dirinya. Apalagi kalau sambil mengingat malam-malam panjang yang telah dilaluinya, rasanya ingin mencakar-cakar tanah sampai jadi sumur. Untungnya, dia masih waras untuk tidak melakukannya.

Namun, biarlah mereka hidup seperti itu. Saya nasihati sampai gigi saya tanggal juga percuma. Raffi adalah budak cinta yang bebalnya melampaui keledai, sedangkan Intan adalah ratu drama sejagad. Bagaimana bisa hamil jika setiap hari Raffi disuruh tidur di ruang tamu, sedangkan istrinya tidur di kamar dengan guling kesayangannya? Asal kamu tahu, guling itu dipesannya langsung dari Korea Selatan. Sarung gulingnya bergambar Chanyeol, selebritas yang menjadi bias-nya.

Repot, ya, kalau punya teman seperti mereka. Fiuh!

Catatan:

Cerita ini dianggit guna mengikuti #katahatichallenge yang diselenggarakan oleh #katahatiproduction.

#Cerpen • Taman di Kepala Tania

Sumber: IG @_katahatikita

Tania tidak pernah mengerti mengapa ayahnya begitu membenci ibunya yang telah meninggal. Seingat Tania, Ibu telah mendedikasikan hidupnya untuk melayani Ayah, mulai dari memasak pagi-pagi buta untuk kami menyarap, menyiapkan pakaian kerja Ayah, melakukan berbagai macam olahraga untuk menjaga kebugaran dan berat badannya demi membahagiakan Ayah, dan masih banyak lagi yang Ibu kerjakan demi Ayah.

Setelah Ibu meninggal, Ayah jadi kesetanan. Ayah membakar semua barang yang dapat mengingatkannya pada Ibu. Semua foto Ibu dibakarnya di belakang rumah. Tanaman-tanaman hias dan bunga-bunga di taman, yang selama ini dirawat oleh Ibu, dibabatnya habis. Bahkan, taman bunga itu kini dijadikan paviliun yang sampai sekarang dibiarkan kosong tidak berguna. Namun, yang tidak pernah Ayah tahu, Tania menyimpan sebotol kecil bibit bunga, sebotol kecil pupuk, dan sebotol kecil tanah gembur yang dapat Tania gunakan untuk memvisualisasikan kenangan tentang Ibu.

Tania mencari cara untuk menanam bibit-bibit tersebut, tanpa ketahuan Ayah. Meskipun Ayah kini tidak lagi tinggal bersamanya dan lebih memilih tinggal bersama keluarga barunya yang berengsek, Ayah menugaskan orang untuk memberiku makan dan mencuci semua pakaian kotornya. Juga untuk mengecek apa saja yang berusaha disembunyikan Tania. Untung saja, orang itu tidak bisa menggeledah apa yang ada di dalam pikiran Tania dan tidak pernah menyadari keberadaan tiga botol sebesar kuku yang disembunyikannya di balik celana dalam.

Pada suatu pagi yang berangin, Tania melihat pohon-pohon bergoyang-goyang di kejauhan. Pohon-pohon itu begitu lebat dan subur. Tania mendapatkan ide, mengapa dia tidak menanam bibit itu di kepalanya yang berambut lebat itu? Meskipun orang suruhan Ayah akan melihatnya, tetapi dia tidak berani menyentuh Tania sedikit pun. Maka, pada malam hari ketika sendirian, Tania menaburkan tanah gembur dan bibit bunga di kepalanya. Botol pupuk disimpan kembali di balik celana dalamnya dan akan digunakan setelah bibit-bibit itu bertunas.

Tidak membutuhkan waktu lama, keesokan harinya, bibit itu sudah bertunas dan tumbuh dengan cepat. Tania sendiri merasa takjub dengan apa yang tumbuh di kepalanya yang kini terasa agak berat dan sejuk. Saat dia menyemprotkan pupuk, tunas-tunas itu menggeliat semangat dan tumbuh dengan kecepatan mengagumkan. Bunga-bunganya pun menguncup dan bermekaran dalam waktu tidak lebih dari tiga hari.

Tania begitu gembira. Dia dapat mencium aroma Ibu dari wangi akar, batang, ranting, bunga, bahkan tanah gembur yang menghuni kepalanya. Dia merasa berada dalam dekapan Ibu yang membelai-belai rambutnya seperti saat dia masih kanak-kanak. Tania menjadi merasa lebih tenang dan memakan makanan dari orang suruhan Ayah dengan lahap, tidak melawan seperti biasanya. Orang suruhan Ayah pun merasa lega karena Tania menunjukkan perkembangan yang baik setelah dua tahun selalu memberontak setiap kali melihatnya.

***

Ketenangan yang dirasakan Tania berangsur-angsur berubah jadi kegelisahan. Beban yang ditanggung kepalanya semakin bertambah seiring bertumbuhnya tanaman-tanaman itu. Kepalanya semakin terasa dingin karena tanaman bunga yang tumbuh semakin lebat hingga menutupi wajahnya. Penglihatan, penciuman, dan pendengarannya pun mulai terganggu olehnya. Hanya mulutnya yang masih bebas bergerak, tetapi tidak dapat difungsikan sejak dia memutuskan untuk mogok berbicara.

Karena penciumannya pun tak berfungsi normal lagi, aroma Ibu pun menguap tanpa bisa dibauinya lagi. Aroma itu berubah menjadi udara beku seperti hutan yang tidak pernah terjamah oleh cahaya matahari. Nafsu makannya pun berkurang drastis, meskipun dia tidak memberontak seperti dahulu lagi.

Kadar oksigen yang terlalu tinggi di kepalanya pun membuat Tania sering sesak napas. Karenanya, Tania berusaha memangkas tanaman di kepalanya agar tidak terlalu rimbun. Agar indra di kepalanya bisa berfungsi normal kembali. Ketika orang suruhan Ayah sedang membersihkan kamar yang mengurungnya selama ini, Tania mengendap-endap mengambil pisau yang ditinggalkan begitu saja untuk mengupas buah. Tania menyeringai senang. Ketenangannya telah membuat orang suruhan Ayah sedikit teledor.

Dengan hati-hati, Tania memangkas pohon-pohon bunga yang membelukar di kepalanya. Melalui pantulan wajahnya di kaca jendela, Tania merapikan belukar itu hingga menjadi lebih rapi dan tidak memberatkan kepalanya, meskipun lama-lama sayatan pisau itu berubah menjadi perih yang menyejukkan sekujur kepalanya.

“Jangaaan!” Orang suruhan Ayah berteriak lantang, sehingga mengagetkan Tania. Tania menatapnya dengan tidak suka, karena teriakannya telah membuat Tania memotong bunga besar yang menjadi kesayangannya. Tanpa pikir panjang, Tania menerjang orang suruhan Ayah dan menghunuskan pisau ke dadanya berkali-kali sampai dia kehilangan tenaga dan ambruk di sampingnya.

***

“Kasihan sekali, ya. Sejak ibunya pergi bersama laki-laki lain, kewarasan anak itu jadi terganggu.”

“Mana dia jadi membenci ayahnya pula. Dia menganggap ayahnya telah membunuh ibunya.”

“Gimana kabar ayahnya sekarang?”

“Dengar-dengar, ingatannya juga semakin memburuk. Namun, dokter Edwin selalu mangkir saat kupancing untuk bercerita.”

“Sudah, sudah! Jangan kita bahas tentang dia lagi. Biarkan arwahnya pergi dengan tenang. Mari doakan arwah kawan kita juga. Kasihan mereka, mati muda karena peristiwa yang sangat tragis.”

Catatan:

Cerpen ini dianggit guna mengikuti #katahatichallenge yang diselenggarakan #katahatiproduction.

#UlasanPuisi • Seated Female Nude, 1921 – Faisal Oddang

Seated Female Nude, 1921

Aku menebak apa yang dipikirkan
cahaya lampu tentang tubuhmu,
aku menebak apa yang tengah
kau renungi, jika sebenarnya
perkara paling rumit di dunia
ini adalah persoalan sederhana.

Apa yang kupikirkan tentang
sepasang puting susumu adalah
apa yang kau pikirkan tentang
sepasang bola mataku
; apa yang patut disembunyikan
jika kemaluan telah pindah
dari selangkang ke kepalamu?

***

Terkadang, sebuah karya seni dapat menginspirasi seseorang untuk menganggit karya seni lainnya, entah karya seni yang sebentuk maupun berlainan bentuk. Seperti halnya puisi karya Faisal Oddang di atas yang terinspirasi oleh sebuah seni rupa karya M.C. Escher (1898-1972), seorang seniman grafis terkenal asal Belanda.

Sumber: wikiart.org

Meskipun puisi di atas disajikan dengan bahasa yang sederhana, tetapi tetap saja memiliki struktur kompleks yang memerlukan suatu analisis untuk memahaminya, dengan atau tanpa melihat seni rupa yang mengilhaminya. Saat kali pertama saya membaca puisi tersebut, saya jadi teringat dengan penggalan lagu Efek Rumah Kaca yang berjudul Kenakalan Remaja di Era Informatika, ketika berahi yang juara, etika menguap entah ke mana. Memang, keduanya merupakan sesuatu yang sama sekali berbeda, tetapi menyampaikan sesuatu yang hampir serupa, yaitu tentang nafsu yang terus menerus bercokol di kepala.

Kemudian ketika saya mencari seni rupa yang menumbuhkan buah pikiran kepada Oddang ini, saya semakin merasakan kekuatan kata dan pesan yang terkandung dalam puisi tersebut. Oddang mampu menerjemahkan seni rupa tersebut dengan cerdas dan cergas. Oddang menajanya dengan memikat, dengan menjadikan cahaya lampu sebagai salah satu subjek selain akupuisi sendiri. Lalu, akupuisi menatanya dengan menyelami pikiran perempuan yang ada dalam seni rupa tersebut.

Di bait pertama, Oddang menafsirkan seni rupa tersebut secara menyeluruh. Sedangkan di bait kedua, Oddang mencoba menerjemahkan sisi-sisi lain yang ditonjolkannya. Puting susu yang memelotot seperti mata dan kaki yang berpangkal pada kepala, dieksekusinya menjadi bait puisi sederhana yang bermakna dalam.

Perlu kejelian mata dan kejelian merangkai makna untuk kemudian menghadirkan sebuah seni rupa dalam rangkaian kata yang indah dan tedas. Oddang berhasil melakukannya dengan sangat baik. Pun berhasil menyampaikan pesan bahwa ketika nafsu telah menguasai isi kepala kita, secara tidak langsung kita sudah menelanjangi diri sendiri.

Hal ini sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini. Bukan hanya tentang nafsu berahi yang langsung terlihat secara kasatmata, tetapi juga nafsu-nafsu lain secara umum. Orang yang mengedepankan nafsu untuk menghujat, merisak, mengorupsi, menebarkan kebencian, dan sebagainya, sebenarnya telah menelanjangi diri di muka publik dan memperlihatkan borok yang merekah pada setiap inci hati dan otaknya. Sebuah keresahan dan ironi yang kerap dihadirkan Oddang dalam karya-karyanya yang lain dalam bentuk novel maupun cerita pendek.

Catatan:

* Puisi karya Faisal Oddang ini telah dimuat di basabasi.co pada tanggal 1 Maret 2016.

* Ini kali pertama saya mencoba mengulas puisi. Jarangnya membaca ulasan puisi dan kritik sastra, membuat saya tidak tahu bagaimana idealnya mengulas sebuah puisi dengan baik.

* Ulasan ini saya anggit guna mengikuti tantangan menulis #katahatichallenge yang diselenggarakan oleh #katahatiproduction.