#Artikel • RUU Permusikan dan Gejolak Jiwa Kaum Marginal

Musik merupakan sebuah fenomena yang sangat unik. Suatu karya seni yang terdiri dari susunan irama harmoni yang menjadi satu kesatuan. Efek yang ditimbulkan musik terhadap tubuh sangatlah tinggi. Ia bisa memengaruhi emosi seseorang. Membuat suasana hati berubah, baik secara emosi maupun sikap. Ia juga dapat meminimalisasi kecemasan, mengatasi mood yang hilang, memberikan energi posif terhadap otak, berpikir optimis, menjadikan tubuh rileks, tenang, dan nyaman.

Banyak ahli musik ternama mendefinisikan seni musik sebagai suatu karya yang muncul dari gejolak jiwa untuk menyampaikan rasa dalam bentuk irama dan melodi yang berbeda-beda. Ia merupakan ekspresi emosi dan suasana hati seseorang.

Dalam buku The Anatomy of Melancholy karya seorang sarjana Robert Burton pada abad ke-17 disebutkan bahwa musik memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mengusir penyakit, juga ampuh dalam melawan keputusasaan dan melankolia.

Namun, saat ini, permusikan Indonesia yang seharusnya mampu memberikan ‘kekuatan’, sedang dilanda ‘cobaan’. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya permintaan dan pengusulan dibentuknya Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan oleh Anang Hermansyah, seorang musisi sekaligus politikus dari Komisi X DPR RI. RUU Permusikan yang sedianya, seperti dikatakan Glenn Fredly selaku penggagas Konferensi Musik Indonesia (KMI), bertujuan agar tata kelola industri musik bisa lebih baik dan akhirnya memberikan manfaat kepada penggiat musik dan masyarakat sebagai konsumen, justru menuai kontroversi di antara kalangan musisi sendiri.

Setelah dikaji oleh berbagai unsur secara mendalam, ternyata terdapat 19 Pasal yang bermasalah di dalamnya, yaitu Pasal 4, 5, 7, 10, 11, 12, 13, 15, 18, 19, 20, 21, 31, 31, 33, 42, 49, 50, 51. Lebih dari itu, bahkan terdapat pasal yang tumpang tindih dengan beberapa Undang-Undang lain yang dimiliki pemerintah Indonesia, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Hak Cipta, Undang-Undang Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, dan Undang-Undang ITE.

Parahnya, RUU Permusikan ini sungguh bertolak belakang dengan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan serta bertentangan dengan Pasal 28 UUD 1945 yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dalam negara Indonesia yang demokrasi ini. Sehingga, hal ini menjadi pemicu permasalahan yang pelik di dunia musik Tanah Air akhir-akhir ini. Untuk itu, kami merumuskan pokok permasalahan yang muncul di tengah masyarakat terkait RUU Permusikan.

Hal yang paling menuai kritik dari para musisi terkait RUU tersebut adalah adanya klausul yang rentan menjadi ‘pasal karet’ atau pasal yang tidak mengenal batasan yang jelas. Pasal karet tersebut, salah satunya tertuang dalam Pasal 5 yang berisi beberapa larangan bagi para musisi, seperti larangan membawa budaya barat yang negatif, merendahkan harkat dan martabat, menistakan agama, membuat konten pornografi, hingga membuat musik yang provokatif. Sekilas, Pasal 5 ini terlihat positif. Namun, ketika ditelaah lebih lanjut, Pasal 5 ini memuat kalimat-kalimat yang cenderung bias dan multiinterpretasi, seperti kata menista, melecehkan, menodai, dan memprovokasi.
Jika Pasal 5 ini diterapkan (dengan ketentuan pidananya ada di dalam Pasal 50), dikhawatirkan akan menelan banyak korban. Hal ini disebabkan perbedaan interpretasi antara aparat penegak hukum dengan pencipta lagu. Dengan dibentuknya UU Permusikan, musik juga bisa dipolitisasi. Maka selain perbedaan interpretasi, bisa saja lirik sebuah lagu dipelintirkan, yang berujung dengan dipenjarakannya sang musisi yang menciptakan lagu tersebut.

Dengan demikian, musik yang membawa gejolak jiwa seperti tertulis di awal artikel ini pun menjadi terkekang, apalagi jika lagunya bernada provokatif dan bersinggungan dengan politik. Bisa saja Iwan Fals dengan lagu Bongkar, Efek Rumah Kaca dengan lagu Mosi Tidak Percaya dan Jalang, atau musisi-musisi lain yang mengungkapkan keresahan akan kondisi sosial politik di negeri ini, akan tersandung masalah, apalagi jika berhadapan dengan pemerintahan yang antikritik. Tampaknya, para perumus RUU Permusikan ini berusaha untuk menabrakkan logika dasar dan etika konstitusi Indonesia sebagai negara demokrasi. Hal ini mengingatkan kita pada masa kejayaan Orde Baru.

Selanjutnya, terdapat Pasal yang berupaya memarginalisasi musisi independen dan berpihak pada industri besar di mana mewajibkan sertifikasi bagi para pekerja dunia musik Tanah Air. Hal ini berindikasi pada kondisi riil bahwasanya sertifikasi itu sangat rentan terhadap marginalisasi, sehingga musisi yang tidak tersertifikasi cenderung bakal mengalami beragam kendala ketika bekerja di kancah musik Indonesia. Indikasinya, memaksakan kehendak dan mendiskriminasi kelompok tertentu yang dengan adanya uji kompetensi dan sertifikasi dalam RUU Permusikan tersebut, mewajibkan musisi untuk lulus ujian kompetensi dan memiliki sertifikat di bidang musik. Selain itu, kredibilitas tim yang melakukan sertifikasi juga rentan menghadapi beragam polemik dan perlakuan diskriminasi yang tentunya bisa berbahaya di masa depan.

Sertifikasi pekerja musik sebenarnya telah berlangsung di sejumlah negara. Akan tetapi, tidak ada satu negara pun yang mewajibkan semua pelaku musik melakukan uji kompetensi. Semestinya, sertifikasi itu sifatnya ialah “pilihan”, bukan “pemaksaan”.

Kondisi yang sungguh bertolak belakang, yaitu terdapat pada Pasal 10 yang mengatur distribusi karya musik melalui ketentuan yang hanya bisa dijalankan oleh industri besar. Kecenderungannya, Pasal ini berpengaruh buruk terhadap distribusi karya musik yang selama ini dilakukan oleh sejumlah musisi skala kecil dan mandiri. Dalam hal ini, keberpihakan pasal-pasal tersebut lebih berorientasi kepada industri musik besar dan memarginalisasi para pelaku musik skala kecil dan independen.

Lebih lanjut, mengenai informasi umum dan mengatur hal yang tidak seharusnya diatur, yaitu terdapat sejumlah Pasal redaksional yang tidak memiliki kejelasan tentang apa yang diatur dan siapa yang mengatur. Hal tersebut tertera pada Pasal 11 dan Pasal 15 yang hanya memuat informasi umum tentang cara mendistribusikan karya yang sudah diketahui dan sering dipraktikkan oleh para pelaku musik serta bagaimana masyarakat menikmati sebuah karya musik. Kecenderungannya, sejumlah Pasal ini tidak memiliki nilai lebih sebagai sebuah Pasal dalam peraturan setingkat Undang-Undang.

Demikian pula halnya dengan Pasal 13 yang memuat kewajiban menggunakan label berbahasa Indonesia. Yang perlu ditekankan di sini ialah penggunaan label berbahasa Indonesia di kancah musik Indonesia seharusnya tidak perlu diatur. Musisi, pencipta lagu, dan penggiat musik berhak untuk memilih sendiri bahasa yang tepat untuk mengekspresikan apa yang telah mereka ciptakan.

Setelah menilik fenomena terkini mengenai RUU Permusikan di atas, maka kami bersepakat untuk melakukan kajian mendalam. Berikut ini adalah poin-poin penting yang kami dapat paparkan untuk menyikapi kontroversi RUU Permusikan, yaitu terdapat kesalahan-kesalahan yang kami sebutkan di atas, yang menunjukkan kekurangpahaman para penyusun naskah RUU Permusikan tentang keanekaragaman potensi dan tantangan yang ada di dunia musik.

Dari dasar itulah, terdapat kelompok-kelompok komunitas permusikan berusaha keras untuk menolak Rancangan Undang-Undang Permusikan. Jika DPR RI dan pemerintah Indonesia ingin turut serta melindungi ekosistem musik di Indonesia, mengesahkan RUU ini adalah sebuah kebijakan yang sangat rentan untuk memadamkan kebebasan berkreasi dan berekspresi para penggiat musik di Indonesia ini. Harapannya, DPR RI dan pemerintah wajib untuk mendorong, mendukung sekaligus melindungi musisi, bukan sebaliknya.

Sumber: Instagram @fourtwntymusic

Saat ini, sejumlah koalisi pelaku musik di Indonesia berinisiatif untuk membedah sejumlah Pasal yang dianggap bermasalah di dalam RUU Permusikan tersebut sebelum secara resmi disahkan. Terlebih, situasi semakin mendesak, karena RUU Permusikan tersebut kini sudah memasuki Prolegnas Prioritas. Artinya, siap untuk dibahas sebagai salah satu Prioritas RUU yang segera akan disahkan. Dari informasi terbaru, peringkat RUU Permusikan sudah naik dari urutan 183 pada tahun 2018 menjadi urutan 48 di tahun 2019.

Untuk menggagalkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut agar tidak menjadi Undang-Undang ialah memberikan kritik kuat yang logis dan nyata. Bahkan bila perlu, diarahkan untuk menyusun RUU tandingan. Secara prosedural, untuk memberikan kritik kuat terhadap RUU, harus diawali dengan mengisi Daftar Isian Masalah (DIM) yang diatur oleh peraturan secara khusus. Dari berita yang beredar saat ini, terdapat koalisi pelaku musik yang sedang menyusun dan menyiapkan Daftar Isian Masalah (DIM) yang hendak diajukan terkait sejumlah Pasal di RUU Permusikan. Mereka berusaha keras untuk merangkai pernyataan sikap yang tegas untuk menolak RUU Permusikan hingga menjaring dukungan untuk menolak RUU Permusikan tersebut dengan cara menyertakan nama, institusi/kelompok musik, dan profesi di bidang musik di situs: http://www.change.org.

Merujuk permasalahan yang telah dibahas di atas, maka kami kira perlu dilakukan peninjauan ulang terhadap RUU Permusikan. Jika pun ingin dituangkan dalam bentuk perundang-undangan, mestinya dirancang sematang mungkin dan jangan sampai menuai kontroversi seperti saat ini. Jangan sampai niat untuk menyelamatkan industri musik Indonesia, justru mendatangkan petaka bagi industri itu sendiri, terutama pelaku musiknya.

Sebagai penutup, izinkan kami mengutip lirik lagu yang ditulis oleh seorang sufi, Jalaluddin Rumi, yang berjudul Lagu Seruling Bambu.

Sejak daku tercerai dari indukku rumpun bambu,
Ratapku membuat lelaki dan wanita mengaduh.
Kuingin sebuah dada koyak disebabkan perpisahan
Dengan itu dapat kupaparkan kepiluan berahi cinta.
Setiap orang yang berada jauh dari tempat asalnya
Akan rindu untuk kembali dan bersatu semula dengan asalnya.
Dalam setiap pertemuan kunyanyikan nada-nada senduku
Bersama mereka yang yang riang dan sedih aku berhimpun
Rahasia laguku tidak jauh daripada ratapku
Namun mana ada telinga mendengar dan mata melihatnya?

Betapa musik mampu menyembuhkan jiwa-jiwa kerontang. Semoga ada solusi atas RUU Permusikan yang kontroversial itu, karena musik adalah bahasa universal. Seni dan kreativitas adalah batasan itu sendiri.

Salam literasi dan selamat bermusik.

Sumber: Instagram @_katahatikita

Catatan:

Artikel ini dianggit oleh Boni Fasius, Jingga Lestari, Raida, dan A.A. Muizz guna mengikuti #katahatichallenge yang diselenggarakan oleh #katahatiproduction.

Sumber Referensi:

1. https://tirto.id/q/ruu-permusikan-t3B?&gclid=Cj0KCQiA14TjBRD_ARIsAOCmO9ZIIhrTUVgi0ILTJ1DM7sHhRjCv39lpOzFlAyxTyWzIqqrEaD5S_2AaAipAEALw_wcB

2.
http://chng.it/cVPLNZNZ

Iklan

#FiksiKilat • Mandul

Setiap kali mendengar lagu Mandul yang dipopulerkan Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih, Intan langsung terlihat murung. Sebenarnya dia bukanlah penyuka musik dangdut, tetapi lirik lagu itu selalu dapat mengusik batinnya. Seperti cerita dalam lagu tersebut, Intan belum dikaruniai keturunan pada usia pernikahannya yang kesepuluh.

Raffi, suami Intan, justru geram tiap kali mendengar lagu ini, segeram tiap kali dia mendengar lagu EXO dari daftar putar Spotify milik istrinya. Bukannya dia tidak menyayangi istrinya, bukan pula tidak ingin memiliki anak, tetapi lagu-lagu itu terdengar seolah mengolok-olok dirinya. Apalagi kalau sambil mengingat malam-malam panjang yang telah dilaluinya, rasanya ingin mencakar-cakar tanah sampai jadi sumur. Untungnya, dia masih waras untuk tidak melakukannya.

Namun, biarlah mereka hidup seperti itu. Saya nasihati sampai gigi saya tanggal juga percuma. Raffi adalah budak cinta yang bebalnya melampaui keledai, sedangkan Intan adalah ratu drama sejagad. Bagaimana bisa hamil jika setiap hari Raffi disuruh tidur di ruang tamu, sedangkan istrinya tidur di kamar dengan guling kesayangannya? Asal kamu tahu, guling itu dipesannya langsung dari Korea Selatan. Sarung gulingnya bergambar Chanyeol, selebritas yang menjadi bias-nya.

Repot, ya, kalau punya teman seperti mereka. Fiuh!

Catatan:

Cerita ini dianggit guna mengikuti #katahatichallenge yang diselenggarakan oleh #katahatiproduction.

#Cerpen • Taman di Kepala Tania

Sumber: IG @_katahatikita

Tania tidak pernah mengerti mengapa ayahnya begitu membenci ibunya yang telah meninggal. Seingat Tania, Ibu telah mendedikasikan hidupnya untuk melayani Ayah, mulai dari memasak pagi-pagi buta untuk kami menyarap, menyiapkan pakaian kerja Ayah, melakukan berbagai macam olahraga untuk menjaga kebugaran dan berat badannya demi membahagiakan Ayah, dan masih banyak lagi yang Ibu kerjakan demi Ayah.

Setelah Ibu meninggal, Ayah jadi kesetanan. Ayah membakar semua barang yang dapat mengingatkannya pada Ibu. Semua foto Ibu dibakarnya di belakang rumah. Tanaman-tanaman hias dan bunga-bunga di taman, yang selama ini dirawat oleh Ibu, dibabatnya habis. Bahkan, taman bunga itu kini dijadikan paviliun yang sampai sekarang dibiarkan kosong tidak berguna. Namun, yang tidak pernah Ayah tahu, Tania menyimpan sebotol kecil bibit bunga, sebotol kecil pupuk, dan sebotol kecil tanah gembur yang dapat Tania gunakan untuk memvisualisasikan kenangan tentang Ibu.

Tania mencari cara untuk menanam bibit-bibit tersebut, tanpa ketahuan Ayah. Meskipun Ayah kini tidak lagi tinggal bersamanya dan lebih memilih tinggal bersama keluarga barunya yang berengsek, Ayah menugaskan orang untuk memberiku makan dan mencuci semua pakaian kotornya. Juga untuk mengecek apa saja yang berusaha disembunyikan Tania. Untung saja, orang itu tidak bisa menggeledah apa yang ada di dalam pikiran Tania dan tidak pernah menyadari keberadaan tiga botol sebesar kuku yang disembunyikannya di balik celana dalam.

Pada suatu pagi yang berangin, Tania melihat pohon-pohon bergoyang-goyang di kejauhan. Pohon-pohon itu begitu lebat dan subur. Tania mendapatkan ide, mengapa dia tidak menanam bibit itu di kepalanya yang berambut lebat itu? Meskipun orang suruhan Ayah akan melihatnya, tetapi dia tidak berani menyentuh Tania sedikit pun. Maka, pada malam hari ketika sendirian, Tania menaburkan tanah gembur dan bibit bunga di kepalanya. Botol pupuk disimpan kembali di balik celana dalamnya dan akan digunakan setelah bibit-bibit itu bertunas.

Tidak membutuhkan waktu lama, keesokan harinya, bibit itu sudah bertunas dan tumbuh dengan cepat. Tania sendiri merasa takjub dengan apa yang tumbuh di kepalanya yang kini terasa agak berat dan sejuk. Saat dia menyemprotkan pupuk, tunas-tunas itu menggeliat semangat dan tumbuh dengan kecepatan mengagumkan. Bunga-bunganya pun menguncup dan bermekaran dalam waktu tidak lebih dari tiga hari.

Tania begitu gembira. Dia dapat mencium aroma Ibu dari wangi akar, batang, ranting, bunga, bahkan tanah gembur yang menghuni kepalanya. Dia merasa berada dalam dekapan Ibu yang membelai-belai rambutnya seperti saat dia masih kanak-kanak. Tania menjadi merasa lebih tenang dan memakan makanan dari orang suruhan Ayah dengan lahap, tidak melawan seperti biasanya. Orang suruhan Ayah pun merasa lega karena Tania menunjukkan perkembangan yang baik setelah dua tahun selalu memberontak setiap kali melihatnya.

***

Ketenangan yang dirasakan Tania berangsur-angsur berubah jadi kegelisahan. Beban yang ditanggung kepalanya semakin bertambah seiring bertumbuhnya tanaman-tanaman itu. Kepalanya semakin terasa dingin karena tanaman bunga yang tumbuh semakin lebat hingga menutupi wajahnya. Penglihatan, penciuman, dan pendengarannya pun mulai terganggu olehnya. Hanya mulutnya yang masih bebas bergerak, tetapi tidak dapat difungsikan sejak dia memutuskan untuk mogok berbicara.

Karena penciumannya pun tak berfungsi normal lagi, aroma Ibu pun menguap tanpa bisa dibauinya lagi. Aroma itu berubah menjadi udara beku seperti hutan yang tidak pernah terjamah oleh cahaya matahari. Nafsu makannya pun berkurang drastis, meskipun dia tidak memberontak seperti dahulu lagi.

Kadar oksigen yang terlalu tinggi di kepalanya pun membuat Tania sering sesak napas. Karenanya, Tania berusaha memangkas tanaman di kepalanya agar tidak terlalu rimbun. Agar indra di kepalanya bisa berfungsi normal kembali. Ketika orang suruhan Ayah sedang membersihkan kamar yang mengurungnya selama ini, Tania mengendap-endap mengambil pisau yang ditinggalkan begitu saja untuk mengupas buah. Tania menyeringai senang. Ketenangannya telah membuat orang suruhan Ayah sedikit teledor.

Dengan hati-hati, Tania memangkas pohon-pohon bunga yang membelukar di kepalanya. Melalui pantulan wajahnya di kaca jendela, Tania merapikan belukar itu hingga menjadi lebih rapi dan tidak memberatkan kepalanya, meskipun lama-lama sayatan pisau itu berubah menjadi perih yang menyejukkan sekujur kepalanya.

“Jangaaan!” Orang suruhan Ayah berteriak lantang, sehingga mengagetkan Tania. Tania menatapnya dengan tidak suka, karena teriakannya telah membuat Tania memotong bunga besar yang menjadi kesayangannya. Tanpa pikir panjang, Tania menerjang orang suruhan Ayah dan menghunuskan pisau ke dadanya berkali-kali sampai dia kehilangan tenaga dan ambruk di sampingnya.

***

“Kasihan sekali, ya. Sejak ibunya pergi bersama laki-laki lain, kewarasan anak itu jadi terganggu.”

“Mana dia jadi membenci ayahnya pula. Dia menganggap ayahnya telah membunuh ibunya.”

“Gimana kabar ayahnya sekarang?”

“Dengar-dengar, ingatannya juga semakin memburuk. Namun, dokter Edwin selalu mangkir saat kupancing untuk bercerita.”

“Sudah, sudah! Jangan kita bahas tentang dia lagi. Biarkan arwahnya pergi dengan tenang. Mari doakan arwah kawan kita juga. Kasihan mereka, mati muda karena peristiwa yang sangat tragis.”

Catatan:

Cerpen ini dianggit guna mengikuti #katahatichallenge yang diselenggarakan #katahatiproduction.

#UlasanPuisi • Seated Female Nude, 1921 – Faisal Oddang

Seated Female Nude, 1921

Aku menebak apa yang dipikirkan
cahaya lampu tentang tubuhmu,
aku menebak apa yang tengah
kau renungi, jika sebenarnya
perkara paling rumit di dunia
ini adalah persoalan sederhana.

Apa yang kupikirkan tentang
sepasang puting susumu adalah
apa yang kau pikirkan tentang
sepasang bola mataku
; apa yang patut disembunyikan
jika kemaluan telah pindah
dari selangkang ke kepalamu?

***

Terkadang, sebuah karya seni dapat menginspirasi seseorang untuk menganggit karya seni lainnya, entah karya seni yang sebentuk maupun berlainan bentuk. Seperti halnya puisi karya Faisal Oddang di atas yang terinspirasi oleh sebuah seni rupa karya M.C. Escher (1898-1972), seorang seniman grafis terkenal asal Belanda.

Sumber: wikiart.org

Meskipun puisi di atas disajikan dengan bahasa yang sederhana, tetapi tetap saja memiliki struktur kompleks yang memerlukan suatu analisis untuk memahaminya, dengan atau tanpa melihat seni rupa yang mengilhaminya. Saat kali pertama saya membaca puisi tersebut, saya jadi teringat dengan penggalan lagu Efek Rumah Kaca yang berjudul Kenakalan Remaja di Era Informatika, ketika berahi yang juara, etika menguap entah ke mana. Memang, keduanya merupakan sesuatu yang sama sekali berbeda, tetapi menyampaikan sesuatu yang hampir serupa, yaitu tentang nafsu yang terus menerus bercokol di kepala.

Kemudian ketika saya mencari seni rupa yang menumbuhkan buah pikiran kepada Oddang ini, saya semakin merasakan kekuatan kata dan pesan yang terkandung dalam puisi tersebut. Oddang mampu menerjemahkan seni rupa tersebut dengan cerdas dan cergas. Oddang menajanya dengan memikat, dengan menjadikan cahaya lampu sebagai salah satu subjek selain akupuisi sendiri. Lalu, akupuisi menatanya dengan menyelami pikiran perempuan yang ada dalam seni rupa tersebut.

Di bait pertama, Oddang menafsirkan seni rupa tersebut secara menyeluruh. Sedangkan di bait kedua, Oddang mencoba menerjemahkan sisi-sisi lain yang ditonjolkannya. Puting susu yang memelotot seperti mata dan kaki yang berpangkal pada kepala, dieksekusinya menjadi bait puisi sederhana yang bermakna dalam.

Perlu kejelian mata dan kejelian merangkai makna untuk kemudian menghadirkan sebuah seni rupa dalam rangkaian kata yang indah dan tedas. Oddang berhasil melakukannya dengan sangat baik. Pun berhasil menyampaikan pesan bahwa ketika nafsu telah menguasai isi kepala kita, secara tidak langsung kita sudah menelanjangi diri sendiri.

Hal ini sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini. Bukan hanya tentang nafsu berahi yang langsung terlihat secara kasatmata, tetapi juga nafsu-nafsu lain secara umum. Orang yang mengedepankan nafsu untuk menghujat, merisak, mengorupsi, menebarkan kebencian, dan sebagainya, sebenarnya telah menelanjangi diri di muka publik dan memperlihatkan borok yang merekah pada setiap inci hati dan otaknya. Sebuah keresahan dan ironi yang kerap dihadirkan Oddang dalam karya-karyanya yang lain dalam bentuk novel maupun cerita pendek.

Catatan:

* Puisi karya Faisal Oddang ini telah dimuat di basabasi.co pada tanggal 1 Maret 2016.

* Ini kali pertama saya mencoba mengulas puisi. Jarangnya membaca ulasan puisi dan kritik sastra, membuat saya tidak tahu bagaimana idealnya mengulas sebuah puisi dengan baik.

* Ulasan ini saya anggit guna mengikuti tantangan menulis #katahatichallenge yang diselenggarakan oleh #katahatiproduction.

#Cernak • Manusia Plastik

Aku mengejar Doni di jalanan sempit dan becek yang menghubungkan sekolah dengan rumah kami di belakang kompleks perumahan mewah. Sepatu dan seragam sekolah kami sudah sangat kotor karena lumpur yang terciprat oleh langkah kaki kami. Namun, itu tak jadi masalah karena besok hari libur, jadi kami dapat mencucinya sendiri tanpa ketahuan orangtua kami.

“Don, berhenti dulu, dong! Es krimku udah nyaris mencair, nih.”

“Salah sendiri beli es krim. Nggak bagi-bagi pula,” tukas Doni sambil mencibir lalu tertawa lepas. Namun, berkebalikan dengan ujarannya, Doni melambatkan langkah dan duduk di bangku tua di pinggir jalan. Aku tahu dia tidak melakukan ini semata-mata demi aku, tetapi juga demi ciloknya yang sudah mulai mendingin.

Kami mengeluarkan jajan masing-masing dari dalam tas, lalu memakannya sambil bercanda dan membuat rencana kegiatan bermain kami esok hari.

“Pulang, yuk! Daripada nanti dicariin Ibu, malah bahaya.”

Kami meninggalkan plastik bungkus jajan kami di bangku tua itu. Baru beberapa langkah kami berjalan, ada suara berisik di belakang kami.

“Kamu dengar suara krusak-krusuk itu, nggak, Rem?”

“Iya.” Aku menjawab pertanyaan Doni sambil menoleh ke belakang.

Sampah plastik kami yang tertinggal di bangku beterbangan dan berkumpul dengan sampah-sampah plastik lain yang bertebaran di sepanjang jalan sempit ini. Plastik-plastik itu bersatu dan membentuk tubuh manusia. Manusia plastik.

Kami menatap kejadian itu dengan takjub, sebelum kengerian menguasai benak kami. Manusia plastik itu tertawa terbahak-bahak dengan suara menggelegar seperti monster yang menemukan mangsa. Dari mulutnya keluar lalat dan nyamuk yang ukurannya melebihi ukuran normal. Sialnya, hewan-hewan menjijikkan itu menyerbu ke arahku dan Doni yang masih terpaku.

Kami lari pontang-panting agar segera sampai ke rumah masing-masing. Berkali-kali kami tersandung batu di jalanan, terpeleset di tanah basah bekas hujan kemarin sore, bahkan terantuk sepatu sendiri.

Manusia plastik itu terus mengejar kami, bahkan setelah kami sampai di perkampungan tempat kami tinggal. Karena rumahku lebih dekat dengan posisi kami sekarang, kami memutuskan untuk berlindung di rumahku saja. Kami berteriak meminta tolong kepada warga, tetapi tak ada seorang pun yang terlihat dan menyahuti permintaan tolong kami.

Sesampainya di depan rumah, hatiku sedikit lega. Paling tidak, manusia platik itu belum dapat mengejar kami setelah kami masuk ke rumah. Namun, itu hanya perkiraanku saja, karena pintu rumahku terkunci.

“Ibu… ibu… tolong bukakan pintu. Kami dikejar manusia platik. Tolooong!”

Tak ada sahutan sama sekali dari dalam rumah. Sementara manusia plastik sudah dapat menjangkau kami dengan tangan baunya. Lalat-lalat dan nyamuk-nyamuk gemuk ini juga menyerang kami tanpa ampun. Mengabaikan kejantananku, air hangat mengaliri kedua kakiku.

***

Aku bangun dengan napas terengah-engah. Mimpi itu begitu nyata. Mimpi itu juga mengingatkanku kepada sampah-sampah yang kubuang sembarangan selama ini di sekolah, di jalan, di got, di bawah tempat tidur, di depan rumah, di mana-mana.

Mengingat manusia plastik yang hadir dalam mimpiku tadi, aku jadi takut sendiri. Bagaimana kalau sampah-sampah plastik dan yang lainnya yang kubuang sembarangan selama ini bersatu dan menjadi monster plastik yang bau dan penuh dengan penyakit? Belum lagi nyamuk-nyamuk dan lalat-lalat gemuk itu akan menggerogoti tubuhku. Membanyangkannya saja sudah membuatku merinding.

Aku merasakan celanaku basah dan hangat. Waduh, aku harus segera ke kamar mandi sebelum ketahuan ibu. Hal lain yang terpikirkan olehku saat ini, mungkin aku harus mengubah agenda bermainku dengan Doni. Tadinya kami mau bermain bola di lapangan kampung, tapi sepertinya aku harus mengusulkan untuk membersihkan sampah-sampah yang kami buang sembarangan kemarin terlebih dahulu.

Catatan:

Cerita anak ini dianggit guna mengikuti tantangan menulis #KataHatiChallenge yang diadakan oleh #KataHatiProduction dengan kata kunci plastik, kunci, dan basah.

#Cerpen • Pelangi di Atas Kuburan

Sumber: www.wisn.com

Sumber: wisn.com

Kematian saudara kembarku menjadi pembicaraan yang tidak habis-habisnya bagi warga desa, bahkan sampai beberapa desa yang jauh dari desaku. Bukan karena kematiannya dan kematian Abah hanya berselang tujuh hari, tapi karena apa yang telah terjadi dengan saudaraku kala dia hidup dan kematiannya yang tidak wajar.
Fahmi, nama saudaraku, adalah orang yang sangat mudah bergaul. Selain ramah dan supel, dia juga cerdas, tampan, jago futsal, dan juga mapan. Aku tak ingin menyebutnya tajir karena kekayaan kami masih menumpang dan bergantung pada Abah.

Meskipun dia memiliki segala kesempurnaan itu, sampai saat di kelas XI SMA, dia belum juga punya pacar. Eh, maaf, ralat, ajaran agama yang kami yakini, yang diajarkan langsung oleh Abah, melarang kami berpacaran. Jadi maksudku, sampai dia kelas XI, dia belum pernah jatuh cinta. Berbeda denganku yang sudah mulai jatuh cinta sejak SD.
Aku bisa tahu itu semua karena hanya kepadakulah dia membuka semua rahasia dan keluh-kesahnya. Pada suatu ketika, aku bertanya, “Kenapa nggak curhat sama Abah atau Umi saja? Pasti nanti dikasih solusi.”

“Aku lebih nyaman curhat sama kamu. Mungkin, ya, karena kita seusia dan kamu bisa diandalkan. Hahaha.”

Saat menjelang kenaikan kelas XII, ada yang aneh dengan Fahmi. Dia suka melamun saat di rumah. Kadang senyum-senyum dan mengerutkan kening dalam waktu hampir bersamaan. Aku berani bertaruh, ada sosok wanita yang tengah menyita perhatiannya.
Namun, dugaanku ternyata salah. Saat ingin menanyakan gadis mana yang sangat beruntung karena berhasil merebut hatinya, dia sedang duduk manis di meja belajarnya, sambil melamun, sambil memegang sebuah foto seorang pemuda yang temanku di ekskul Karya Ilmiah Remaja.

“Mi, ka… kamu lagi jatuh cinta? Foto itu?”

Fahmi berusaha menyembunyikan foto itu, tapi percuma saja, dia takbisa bersembunyi begitu saja.

“Mi, kamu tahu, kan, agama kita melarang cinta sesama jenis? Kalau sampai Abah tahu gimana?”

Raut muka Fahmi berubah murung, padahal biasanya dia jarang sekali menekuk wajah seperti itu. Aku dapat melihat harapan, ketakutan, dan keputusasaan di dalam matanya.

“A… aku nggak tahu. Tapi, apa menurutmu jatuh cinta ke sesama jenis itu dosa? Bukankah jatuh cinta itu karunia Tuhan kepada makhluk-Nya yang datang secara nggak terduga, meski tanpa diinginkan?”

Ada benarnya juga apa yang dikatakan Fahmi, tapi aku hanya menjawab entah, karena aku benar-benar taktahu harus menjawab apa.

“Ri, tolong jaga rahasia ini, ya. Aku tahu perilaku homoseksual dilarang Tuhan kita, tapi jatuh cinta? Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan menjaga diri.”

Aku tidak pernah membayangkan kalau keluargaku, apalagi saudara kembarku, akan mengalami masalah seperti ini. Mungkin benar bahwa jatuh cinta itu buta, ia membiaskan semua perbedaan, baik moral, materi, bakan gender. Dan, betapa berat beban yang ditanggung orang yang dikaruniai perasaan cinta ke sesama jenis, tapi dia tetap menjaga diri dari sesuatu yang lebih dari sekadar jatuh cinta, untuk menghindari apa yang dilarang Tuhan-nya dalam kitab suci.

***

Hari-hari Fahmi, kulihat biasa saja. Tingkah aneh saat jatuh cinta tidaklah berlangsung lama. Hanya saja, dia terlihat lebih murung dan jadi pendiam. Terlebih saat kulihat dia sendirian di kamarnya.

“Kamu kenapa lagi, sih, Mi?”

“Aku nggak tahu harus bagaimana lagi, Ri.”

“Maksud kamu?”

“Aku udah coba berbagai cara untuk bisa tertarik sama cewek. Tapi aku tetap aja nggak bisa.”

Fahmi membenamkan wajah dalam kedua telapak tangannya. Napasnya terdengar sangat berat, sebelum akhirnya punggungnya bergetar menahan sesaknya dada.

“Apa Tuhan mau mengampuni aku, Mi?”

“Kamu ngomongin apa, sih, Mi? Kayak yang pernah kamu bilang waktu itu, cinta bisa datang tanpa mengenal ruang, waktu, maupun objek. Jadi, kenapa kamu mesti ambil pusing? Jalani aja hidupmu seperti biasanya, Mi. Kamu itu bintang bagi orang-orang.”

“Bintang yang munafik. Di balik sinarnya, tersembunyi kegelapan yang tak pernah terjamah.”

“Aku nggak hanya mengkhawatirkan diriku sendiri, Mi,” lanjutnya. “Aku takut kalau sampai Abah tahu, kalau sampai orang-orang tahu kalau anak sang guru agama yang mereka puja, ternyata seorang yang menjijikkan bagi mereka.”

“Mi, dengerin aku! Just be yourself, okay? Jika kamu masih meyakini kalau perilaku homoseksual itu nggak boleh dan nggak mau kamu lakukan, aku yakin Tuhan tengah mengujimu dengan semua ini. Kamu orang luar biasa yang dipercaya-Nya untuk melewati ini semua.”

Thanks, Ri. Aku nggak tahu harus gimana, tapi kamu datang menguatkanku.”

***

Entah dari mana kabar itu berembus lembut, tapi dapat membuat seluruh pesantren geger. Tiga orang santri dengan tiba-tiba memutuskan keluar dari pesantren, dijemput orangtuanya. Hari itu bertepatan dengan hari kelulusan sekolah dengan Fahmi sebagai juara umum di kelas IPA. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama setelah kami dan Abah menginjakkan kaki di teras rumah kami yang bersebelahan langsung dengan kompleks pesantren Abah.

“Abah, celakalah kita,” Umi berkata di bibir pintu dengan raut muka panik, bahkan sebelum kami mengucapkan salam.

“Ada apa, Umi?” tanya Abah dengan tenang, meski raut wajahnya memancarkan kekhawatiran.

“Fahmi… kata orang, Fahmi jelmaan kaum Nabi Luth yang dikutuk itu. Tiga santri langsung keluar dari sini.”

Wajah Abah yang biasanya selalu tenang dan penuh wibawa, kini diliputi mendung kelabu yang tak sekali pun pernah mampir padanya. Sementara itu, Fahmi hanya menunduk. Setahuku, Fahmi takakan bicara masalahnya yang satu itu kepada orang lain selain aku, tapi kenapa kabar ini bisa tersiar dan ditambah-tambahi dengan mengikutsertakan kaum Sodom segala, sedangkan aku yakin seratus persen, meski Fahmi memiliki kecenderungan cinta sesama jenis, dia tidak akan atau setidaknya belum pernah melakukan hal yang dimaksud.

“Benar itu, Mi?” suara Abah terdengar begitu dalam dan serak.

“Fahmi tidak pernah melakukannya, Bah,” suara Fahmi terdengar pelan seperti embusan angin dalam kesunyian.

“Angkat wajahmu! Tatap mata Abah!”
Fahmi mengangkat wajahnya. Tak dapat kuterka apa yang ada dalam kepalanya.

“Apa benar kamu pernah melakukan perbuatan keji itu?” ulang Abah.

“Sumpah, Bah. Fahmi tidak pernah melakukannya. Fahmi hanya pernah menyukai seorang laki-laki di sekolah Fahmi, tapi Fahmi tidak pernah berhubungan apa pun dengannya. Fahmi hanya suka mengamatinya. Tidak lebih.”

Abah melangkah menuju kursi ruang tamu terdekat, lalu duduk sambil memegang dada dan memejamkan mata. Air mata pun menetes satu-satu. Lantunan zikir dan istigfar tak henti-henti keluar dari mulutnya.

“Ya Allah, ampunilah dosaku karena gagal mendidik anakku. Ampunilah. Ampunilah.”

“Sudahlah, Bah. Jangan menyalahkan diri, dan jangan pula menyalahkan Fahmi,” hibur Umi. “Ini semua cobaan dari Yang Mahakuasa.”

Umi yang tadi sempat berapi-api, kini justru berbalik menenangkan Abah. Umi taktega melihat Abah terlihat terpuruk, juga takingin anak kesayangannya tersudut lebih jauh lagi.

Fahmi berlari menuju kamarnya. Aku pun mengejarnya. Tanpa berpikir panjang, Fahmi mengemasi pakaian-pakaiannya ke dalam ransel.
“Mi, kamu mau ke mana?” tanyaku.

“Aku harus pergi dari sini. Aku nggak akan tahan melihat Abah dan Umi dihina orang karena aku.”

“Mi, pikirkan matang-matang dulu. Aku yakin pasti ada solusi lain.”

“Nggak, Ri. Aku pikir, inilah yang terbaik sekarang.”

Dengan langkah cepat, Fahmi meninggalkan kamarnya, lalu pamitan kepada Abah dan Umi. “Fahmi pergi dulu, Bah, Mi.”

“Fahmi, kamu mau ke mana, Nak?” Umi bertambah cemas.

“Entahlah, tapi Abah dan Umi jangan khawatir, Fahmi dapat jaga diri, kok. Fahmi hanya tak ingin masalah di sini, terutama urusan Abah dengan pesantren jadi runyam. Mungkin, dengan perjalanan Fahmi nanti, orientasi seksual Fahmi jadi bisa seperti kebanyakan orang lainnya. Fahmi hanya mohon Abah dan Umi tetap mendoakan Fahmi.”

Fahmi mencium tangan Abah dan Umi.

“Titip Abah dan Umi, ya, Ri,” ucapnya sambil memelukku dengan air mata tertahan di pelupuk mata. Dia langsung keluar dan mengucapkan salam. Berjalan cepat tanpa memedulikan panggilan Abah yang berkali-kali.

Sejak saat itu, kesehatan Abah terus menurun. Tubuhnya, kian hari kian menyusut. Penyakit yang dulu takpernah ada dalam hidupnya, kini datang satu per satu. Aku tak tega melihatnya. Abah yang dulu terlihat sangat bugar meski waktu tidur terbatas karena mengurus pesantren dan bermunajat kepada Tuhan, kini tak ubahnya makhluk tua keriput yang tak bisa apa-apa, setahun setelah kepergian Fahmi.

Aku dan Umi takhenti-hentinya membujuk Fahmi untuk pulang, melalui panggilan telepon. Namun, Fahmi tak juga luluh. Karena dia tahu, masih banyak masyarakat kampung dan sekitarnya yang takbosan mencela keluarga mereka. Kebaikan-kebaikan yang telah kami perbuat kepada mereka, seolah terhapus begitu saja karena suatu keburukan (bagi mereka) di keluarga kami.

Baru saat Abah menjelang ajal dan selalu memanggil namanya, Fahmi berhasil kami bujuk untuk pulang. Setelah bertemu dan memeluk Fahmi, nyawa Abah harus dibawa oleh malaikat maut, menyisakan senyum di bibirnya.

Setelah Abah meninggal, desas-desus tentang keluarga kami dan Fahmi justru semakin sering digaungkan. Di jalanan, di warung kopi, di toko kelontong, di teras-teras rumah, di pesantren kami, bahkan di surau. Umi jadi sering menangis, entah karena tumpuan hidupnya selama ini telah berada di alam lain, atau karena cobaan hidup dalam keluarga kami tak habis-habisnya, mulai dari gunjingan di sana-sini, sampai pesantren yang kini sepi dan terbengkalai. Sementara Fahmi, kini terus mengurung diri di kamarnya.

***

Aku melihat pelangi itu di atas makam Fahmi. Dalam naungan pelangi itu, Fahmi terlihat tersenyum, seolah berterima kasih atau telah tenang hidup di alam sana.
Pagi itu, seminggu setelah kematian Abah, Fahmi ditemukan meninggal di kamarnya dengan sebilah pisau terhunus di dadanya. Dia tidak bunuh diri. Aku membuatnya pingsan, lalu menusukkan pisau tepat di jantungnya saat pagi menjelang.

Aku pikir, dengan meninggalnya Fahmi, kehidupan kami, terutama kehidupan Umi akan lebih tenang karena sumber masalah yang memicu ini semua telah tiada. Tapi nyatanya, masyarakat memang lebih suka menggunjingkan keburukan orang lain, bahkan ketika orang yang bersangkutan sudah tak ada lagi di dunia.

Karena itu, aku menyesal dan menuliskan kisah ini.

Catatan:

Cerpen ini dianggit kembali guna mengikuti tantangan menulis #katahatichallenge yang diadakan oleh #katahatiproduction dengan tema Unpopular Opinion.

#Puisi • Rumah Berangsang

di atas sini, aku masih dan tetap melihatmu saat monster-monster nasib melahapmu. aku terkelu, hanya mampu terkelu, karena akar-akar ini telah menjeratku hingga membiru dan membatu. aku hanya mendengar bayu mendesiskan cerita tentangmu yang bergumul ketaksaan dan keterpaksaan memilin hidup. begitulah caraku tetap melihatmu.

aku rumahmu. kamu rumahku. sayangnya, aku adalah diri yang berjalan-jalan di gigir maut tanpa pernah melihat malaikat maut yang diutus tuhan. andai saja aku seorang poliglot, telah kujeritkan pertanda ini kepadamu, saat aku tak lagi mengerti bahasa manusia. aku hanya mengenali suara tawa setan-setan itu, dengan air liur membanjiri tubuh mereka. aku hanya dapat membaui air seni dan air mani iblis yang bergayutan di hidungku yang remuk berdarah. saat itu, aku hanya mengingatmu yang terus menjaga rumahku, tanpa tahu aku tidak akan pernah kembali, bahkan dalam bentuk aroma yang dapat merayah segala kesadaranmu.

aku rutin mendengar awan merisik ritmis, tentangmu yang berdiri setiap kamis, dengan wajar marah dan getir penuh gerimis. tekad bajamu mencoba mengenyahkan kenyataan bahwa mulut mereka bersembunyi dalam sekam. sedikit saja mulutnya membuka, sekamnya akan menjalarkan api membakar wujudnya sendiri.

aku tahu kamu merindukanku seperti aku juga merindukanmu. andai aku bisa, akan kujemput kamu ke sini, ke tebing bernama ketidakpastian yang akan terus tumbuh. kita akan bermain layang-layang, menerbangkannya setinggi mungkin, setinggi harapan yang takpernah tangguh bertumbuh.

Semarang, 28 Januari 2019

Catatan:

Puisi ini dianggit guna memenuhi tantangan menulis #katahatichallenge yang diadakan oleh #katahatiproduction, yaitu menulis puisi dengan tema “Rumah”.