#BookReview • Magic Banana – Ninna Lestari

“Karena terkadang, berpura-pura tidak tahu jauh lebih baik dibanding menyakiti
seseorang dengan mengungkit hal yang berusaha kuat disembunyikannya.”—hlm. 50

Kehidupan Alfa berubah drastis setelah kematian Alfi, saudari kembarnya. Apalagi saat kematiannya, Alfa tidak berada di samping Alfi. Alfa seakan kehilangan poros hidup dan kebahagiaannya, karena hubungan mereka berdua sangatlah dekat. Alfa berperan sebagai pelindung Alfi, dan Alfi sebagai sumber kekuatan Alfa.

Selama hampir dua tahun, Alfa diliputi kesedihan. Alfa berubah total, dari anak yang ceria menjadi pemurung, dari anak baik-baik menjadi sedikit sulit diatur.

Sampai saat Alfa kelas XII dan menjadi panitia MOS, dia bertemu dengan juniornya yang membangkitkan sifat jail Alfa. Bukan karena gadis itu cantik, menarik, atau apa, tapi karena dia memiliki nama yang unik: Banana.

Kehidupan Banana di awal-awal masuk SMA-nya berubah menjadi kesialan. Berbagai kejadian mempertemukannya dengan Alfa, dan selalu saja cowok itu mengerjai Banana entah bagaimana caranya. Namun, Banana bukanlah tipe cewek yang rela ditindas begitu saja. Dia tipe cewek yang berani membela dirinya dan merencanakan pembalasan terhadap Alfa.

Semakin seringnya interaksi di antara mereka membuat Banana menyadari sesuatu yang berusaha disembunyikan Alfa mati-matian. Banana menyadari ada sisi kelam yang ada pada Alfa, dan Banana ingin membantu Alfa menyelesaikan permasalahannya.

Namun, ketika Banana bertindak terlalu jauh untuk membantunya sehingga menyentil sisi paling sensitif di hati Alfa, semuanya menjadi berubah. Kedekatan yang baru dijalin, berubah menjadi keputusan Alfa untuk tidak lagi mau mengenal dan berhubungan dengan Banana. Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Mampukah Alfa menyelesaikan episode kelam dalam hidupnya sendirian?

“Terkadang seseorang yang sangat kita cintai di masa lalu bisa berbalik menjadi orang yang paling kita benci di masa depan.”

—hlm. 85 

***

Saya sangat menikmati karya debut penulis GWP ini. Meskipun ceritanya mainstream banget, tapi eksekusinya bagus. Mulai dari pemilihan nama Banana pun dia pikirkan dengan baik. Jadi, nama Banana itu memang ada sejarahnya dan bukan karena bapak-ibunya banana addict. Uniknya, nama itu kemudian menyatu dengan diri Banana. Mulai dari menjadikan warna kuning menjadi warna favoritnya, sampai menjadikan pisang dan olahannya menjadi makanan wajib di mana pun dan kapan pun.

“Gue nggak peduli mau dipandang kayak apa pun oleh siapa pun, itu kan hak mereka. Dan hak gue itu melakukan apa pun yang gue suka dengan nyaman, selama hal itu masih berada di batas wajar dan nggak ngerugiin orang lain.”

—hlm. 52

Novel dengan alur maju yang diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga ini tidak hanya menyajikan kisah romansa remaja, melainkan juga masalah keluarga, persahabatan, dan juga ada bagian yang menyinggung kesehatan (pola makan). Selain itu, melalui konflik-konflik yang ada, banyak banget hal yang mau disampaikan penulis. Hal-hal yang quoteable dan memang menyatu dengan cerita. Karakter Alfa dan Banana yang kuat dan sifat mereka yang kocak membuat saya sering tersenyum sendiri saat membaca novel ini. Apalagi tiap kali Alfa memanggil Banana dengan sebutan Pisang Berjalan, terasa kocak banget dalam imajinasi saya. Namun, kocaknya mereka juga masih dalam tahap wajar, sehingga tidak menimbulkan efek capek saat membaca.

“Kadang perhatian aja nggak cukup buat bikin orang jatuh cinta. Meski udah jungkir balik usaha, kalau bukan jodoh, mau gimana lagi?”

—hlm. 104
“Gue lebih baik dibenci karena bersikap jutek sama orang yang nggak gue suka, daripada harus bersikap baik dan ngebuat orang lain berharap sementara perasaannya nggak bisa gue balas.”

—hlm. 154

Buat kamu yang suka membaca cerita cinta remaja yang nggak lebay, saya yakin novel ini cocok untuk kamu nikmati. Selain itu, banyak pesan moral yang bisa kita ambil, meskipun kita sudah tidak lagi remaja. Pesan moral yang universal.

“Orang yang bersalah itu hidupnya nggak bakal pernah tenang. Setiap hari mereka diliputi perasaan cemas dan takut. Percaya deh, beban mental itu salah satu karma yang paling menyiksa.”

—hlm. 194

Tipe-tipe cerita seperti ini, ending-nya hampir selalu bisa ditebak. Namun, yang mengasyikkan adalah bagaimana penulis menggiring pembaca untuk menikmati bagian demi bagian untuk mencapai konklusi.

“Menerima apa adanya itu artinya mensyukuri hal-hal yang emang udah mutlak dan nggak bisa diubah. Bukan membenarkan segala kekurangan, apalagi keburukan pasangan. Kalau kayak gitu pasangan kita nggak bakal maju-maju dong.”

—hlm. 247

Setelah bulan lalu membaca cerita cinta remaja yang lebay banget dan bikin reading slump, akhirnya saya menemukan kembali kenikmatan membaca novel remaja saat membaca “Magic Banana”. Saya kasih rating 3,5 bintang, ya.

Judul: Magic Banana

Penulis: Ninna Lestari

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 264 hlm.

Cetakan: Pertama, 2016

ISBN: 978 – 602 – 03 – 3393 – 9

Iklan

#BookReview • Asrama – Muhammad Fatrim

“Nggak guna menangis untuk hal yang nggak perlu. Tabahkan hati Kakak,” tegur seseorang.

—hlm. 144

Berbagai kejadian aneh menimpa Dahlia di asrama di sekolah baru yang ditempatinya. Asrama putri itu dikuasai oleh geng-geng kejam yang suka menindas. Pada hari kedua Dahlia tinggal di asrama itu, dia dijebak oleh salah satu geng penindas di sana hingga dia nyaris diperkosa. Selain itu, mereka juga minta dilayani bak seorang ratu. Mulai dari mencucikan pakaian, menyetrikanya, sampai ke urusan perut.

Hal ini tentu saja membuat Dahlia geram dan menaruh dendam terhadap geng penindas itu. Hingga suatu malam, dia bersama teman-teman sekamarnya memainkan spirit of the coin (permainan semacam jailangkung/ouija) untuk memberikan perhitungan kepada geng penindas tersebut.

Sejak saat itu, berbagai kejadian horor menimpa geng penindas tersebut. Namun, tidak hanya sampai situ saja, Dahlia pun kerap mendapatkan berbagai macam teror dari hantu-hantu itu. Bahkan, teror itu muncul pada siang hari, muncul melalui mimpi yang berulang, maupun saat Dahlia pulang ke rumah saat liburan.

Selain itu, Dahlia juga dikelilingi orang-orang yang aneh. Lena, Farah, dan May (teman sekamar Dahlia) yang telah dianggap sahabat oleh Dahlia, tetapi menyimpan rahasia. Maria dan Ira, gadis yang sering muncul tiba-tiba, berkata aneh, lalu menghilang tiba-tiba pula. Pak Darus sang penjaga sekolah yang tidak pernah bersikap ramah dan sering memberikan sesajen di bawah pohon ara besar yang ada di lingkungan asrama.

Apa hubungan tokoh-tokoh itu dengan teror yang menimpa Dahlia? Siapa yang ‘jahat’ dan siapa yang patut dipercaya? Siapkan dirimu untuk menerima twist berlapis di ending cerita novel ini!

***

Saya menaruh ekspektasi lumayan tinggi ketika pertama kali mengincar buku horor karya penulis Malaysia ini. Pasalnya, saya pernah dibuat suka dengan salah satu film horor Malaysia yang berjudul Munafik. Dan… novel ini cukup membuat saya puas. Suasana yang dibangun penulis cukup membuat saya merinding di beberapa bagian. Untung saja suasana horornya disebar di banyak bagian, dalam scene yang singkat-singkat, dan dengan karakter tokoh utama yang pemberani, sehingga tidak membuat saya sampai depresi mengikuti keseraman-keseraman itu.

Novel ini diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga dengan alur maju. Sehingga meskipun tokoh Dahlia masih menjadi pusat cerita, saya juga dapat mengetahui apa yang ada di luar jangkauan Dahlia.

Selain humor dan horornya, yang membuat novel ini mengesankan adalah lokalitas Malaysia yang kental. Mulai dari istilah-istilah, mantra, dan banyak lagi lainnya. Namun, jangan khawatir tidak tahu apa maknanya, karena Penerbit Haru membuat catatan kaki untuk istilah-istilah itu.

***

Apa yang saya dapat setelah membaca novel ini?

Pertama, kepuasan. Karena saya masih saja terbayang akan beberapa bagian cerita buku ini setelah saya menutupnya. Bahkan, saya masih mengingat-ingat alurnya dan bagaimana teror itu mengganggu Dahlia secara beruntun. Apalagi twist ending-nya yang meskipun sebagian bisa ditebak, tetapi saya dibuat penasaran dengan cerita lengkap alias sebab-akibatnya.

Kedua, beberapa pesan moral, terutama tentang persahabatan dan larangan menyekutukan Tuhan meskipun untuk hal yang dianggap suatu kebaikan. Selengkapnya, baca saja novel ini. Hahaha.

***

Ada beberapa hal yang agak mengganggu saya dalam membaca novel ini.

Pertama, nama tokohnya banyak banget. Bahkan tokoh figuran pun diberi nama. Udah gitu, nama-nama tokohnya nggak begitu istimewa. Di awal-awal, saya sering tertukar antara nama Dahlia dan Diana.

Kedua, tokoh Adam (yang mulai memikat hati Dahlia) dan Azhar (sepupu Adam yang konyol) yang membuat cerita novel ini berwarna di beberapa bab, tetapi hilang begitu saja tanpa ada kejelasan. Pertanyaan tentang sosok misterius Ira juga belum terjawab sepenuhnya. Mungkinkah akan ada jawabannya di novel Asrama 2?

Empat bintang untuk Asrama!

Data Buku

Judul: Asrama

Penulis: Muhammad Fatrim

Tebal: 296 hlm. 

Penerjemah: Shahida Harun

Penyunting: Cerberus404

Penerbit: Haru Media

Cetakan: Pertama, September 2017

ISBN: 978-602-6383-27-3

#FFKamis • Aku Tidak Tahu Bagaimana Cara Mencintaimu

Aku tidak tahu hubungan ini mau dibawa ke mana.Aku tidak mau terus-terusan seperti ini.

Aku tidak menyukai perceraian, tapi melangsungkan status ini juga sangat menyakitkan.

“Aku tidak beruntung sama sekali mempunyai istri sepertimu. Kamu nggak pernah becus melayaniku,” katamu sambil menampar, memukul, bahkan menendang tubuhku hingga aku tak sadarkan diri.

Aku tidak tahu mengapa kamu mempertahankan diriku, padahal berkali-kali kamu mengatakan kalimat menyakitkan itu. Demi anak? Tapi kita belum punya anak lagi setelah kedua anak kita meninggal karenamu.

Aku tidak tahu lagi bagaimana mencintaimu. Semua yang kulakukan selalu salah di matamu. Bagaimana kalau kita minum racun bersama malam ini?

#FFKamis • Ibu Sudah Bisa …

“Ibu sudah bisa bangun?” tanyaku ketika melihat bayangannya di cermin.Ketika aku berbalik menghadap ranjang ibu, tak ada siapa-siapa.

“Ibu sudah bisa berdiri?” tanyaku saat melihat bayangannya melalui cermin. Kupejamkan mata. Kurasakan ibu mendekatiku. Bau tubuhnya yang menyengat khas orang sakit, meskipun setiap hari kumandikan, menusuk-tusuk indera penciumanku. Desah napas beratnya sangat mengganggu ketenanganku.

Kutarik napas dalam-dalam. Menunggu. Selama sepuluh menit, tak ada apa pun yang terjadi.

Kubuka mataku. Kupecahkan setiap cermin yang ada di rumah.

Ibu, aku membunuhmu bukan karena benci. Bukan pula karena tidak mau merawat. Melainkan agar ibu terlepas dari penyakit menahun itu.

Ibu sudah bisa tenang?

#BookReview • To All The Boys I’ve Loved Before – Jenny Han


Judul: To All The Boys I’ve Loved Before

Penulis: Jenny Han

Penerbit: Penerbit Spring

Cetakan: Pertama, April 2014

ISBN: 9786027150515

📝
Lara Jean mempunyai kebiasaan yang unik, yaitu menulis surat cinta untuk cowok yang disukainya. Bukan untuk dikirimkan ke cowok itu, tetapi untuk disimpannya sendiri di kotak topi pemberian ibunya.

Suatu hari, cowok paling ganteng di sekolah yang pernah disukainya, Peter Kavinsky, menunjukkan surat yang pernah Lara Jean tulis. Tentu saja Lara Jean bingung karena dia tidak pernah mengirimkan surat itu.

Sesampainya di rumah, Lara Jean mengecek kotak topi itu. Dan… kotak topi itu menghilang tanpa jejak.

Selang beberapa waktu, Josh, cowok yang pernah disukainya juga, tetangga, teman baik, sekaligus (mantan) pacar kakaknya menunjukkan surat juga. Karena dilanda panik akut, Lara Jean bilang kalau dia sekarang sudah mengencani seorang cowok. Ndilalah, saat itu Peter lewat di situ. Langsung saja, Lara Jean mencium Peter untuk membuat Josh yakin.

Kejadian itu menjadi awal perjanjian Lara Jean dan Peter K untuk menjadi pacar bohongan, karena saat itu Peter bilang kalau dia ingin membuat Genevieve, mantan pacarnya, cemburu.

Sejak saat itu, Lara Jean dan Peter jadi dekat. Mereka sering keluar bareng. Peter juga sering bertandang ke rumah Lara Jean. Apalagi, adik Lara Jean yang bernama Kitty sangat menyukai Peter. Karena, yah, Peter memang tipe cowok yang loveable banget, bahkan bagi anak kecil maupun orang dewasa. Hubungan dengan Peter juga menyadarkan Lara Jean bahwa dia tidak lagi ‘menyukai’ Josh. Justru malah Josh yang berstatus menjadi mantan pacar Margot sang kakaknya Lara Jean ini malah cemburu pada hubungan mereka yang semakin dekat dan akrab.
💌
Cerita dalam “To All The Boys I’ve Loved Before” ini nggak muluk-muluk dan mengalir dengan hangat serta wajar. Namun, itulah yang menjadi kelebihan novel ini.

Karakter Lara Jean hidup banget dan tumbuh selama cerita berlangsung. Lara Jean yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, harus menggantikan posisi kakaknya yang memulai pendidikan barunya di Skotlandia. Bagaimanapun, Margot sang kakak adalah panutan sekaligus tempat berlindung Lara Jean selama ini, karena ibunya telah lama meninggal. Dengan kepergian kakaknya, Lara Jean harus belajar mengurus rumah, melindungi Kitty, sekaligus menjadi partner Daddy-nya yang single parent. Tentu saja awal-awal dia sangat kewalahan dan kebingungan, bagimana dia bisa mengerjakannya sebaik Margot.

Karakter Peter K juga pasti disukai cewek-cewek. Sederhana, usil, cuek, tapi hangat. Ini membuat chemistry-nya dengan Lara Jean oke banget, karena di samping itu, Peter dengan cepat mengimbangi sifat-sifat Lara Jean.

Yang bikin cerita novel ini tambah hangat, yaitu interaksi ketiga bersaudara ini. Meski sering tak sependapat, mereka saling membutuhkan satu sama lain. Dan mereka menunjukkannya.

Satu lagi kelebihan buku ini, di beberapa bagian tersebar nama-nama makanan barat dan Korea (FYI, Lara Jean ini keturunan US-Korea). Yang menjadi kelebihan bukan itunya, tapi adanya catatan kaki untuk menjelaskan makanan-makanan itu. Sehingga bagi orang awam seperti saya, itu sangat membantu merangkai imajinasi di dalam kepala. Dan, tentu saja sebagai tambahan ilmu juga.

Oh, ya, satu lagi. Pembatas bukunya imut dan keren!  Terjemahannya juga asyik banget dibaca.

Karena novel ini adalah seri pertama dari sebuah trilogi, ending-nya begitu saja, tapi tidak terlalu menggantung juga. Dan bila ingin membaca buku keduanya dulu, itu juga tak masalah untuk mengerti ceritanya. Namun, ya, lebih nikmat kalau baca berurutan.

Oh, ya, lanjutan novel ini, “P.S. I Still Love You” dan “Always and Forever” versi terjemahan sudah terbit semua, lho. Saya belum baca yang seri terakhir. Semoga segera berjodoh dengan buku dengan cover keren itu.

#BookReview • Insya Allah, Sah! – Achi TM

Menyatukan dua administrasi insan manusia di KUA saja butuh proses. Apakah nanti bisa menyatukan dua keluarga besar? Yang terpenting adalah pernikahan harus menyatukan dua hati.

—hlm. 145
Karena berkutat dengan pelanggannya yang rewel, Silvi tidak dapat memenuhi janji dengan Dion, pacarnya. Padahal, hari itu Dion ingin melamar Silvi tanpa memberi tahunya terlebih dahulu.

Untuk menebus rasa bersalah dan takut lamaran itu batal karena Silvi sudah kebelet nikah di usianya yang ke-29, Silvi ingin langsung menemui Dion di kantornya. Namun, naas, Silvi terjebak di lift yang macet saat ingin menuju lantai tempat kantor Dion. Sialnya lagi, dia hanya berdua dengan lelaki bernama Raka yang sangat religius dan menyebalkan di dalam lift macet itu.

Karena lift tak juga bisa bergerak, Silvi panik dan bernazar ingin memakai jilbab kalau dia bisa keluar dari sana. Ajaib, tak lama kemudian lift bisa bergerak lagi.

Lamaran pun dilaksanakan. Hari pernikahan ditentukan 99 hari setelah hari itu. Sayangnya, Dion harus pergi keliling 30 kota dalam 60 hari dalam rangka audisi band yang ditugaskan kepadanya. Mau tak mau, Silvi harus menyiapkan pernikahannya tanpa Dion. Sebagai bentuk tanggung jawab, Dion meminta Raka yang menjadi bawahannya untuk membantu Silvi.

Persiapan pernikahan itu mengalami banyak halangan, seperti Silvi yang kena tipu wedding organizer di Facebook, peristiwa sobeknya tuxsedo senilai 37 juta saat fitting, belum mendaftar menikah di KUA, dsb yang membuat Silvi lelah lahir batin. Belum lagi harus menghadapi Raka yang suka menceramahi ini-itu dan selalu mengingatkan Silvi pada nazarnya memakai jilbab yang terasa sangat berat karena Silvi adalah desainer baju seksi yang sangat terkenal.

Setelah berbagai macam peristiwa menimpanya, Silvi memutuskan untuk berjilbab. Namun, tanpa diduga, ternyata Dion tak menyukai wanita berjilbab. Silvi dilema harus memilih Dion cinta matinya sekaligus calon suaminya, atau memilih Allah dengan mempertahankan jilbabnya.

👠

Awalnya saya tak berekspektasi apa pun ketika membaca novel ini. Saya hanya sedang butuh membaca novel yang ringan dan atau manis setelah membaca beberapa novel thriller secara berurutan. Namun, ternyata ceritanya memang asyik dan banyak bagian yang kocak.

Novel setebal 300-an halaman ini hampir seluruhnya menyajikan cerita persiapan pernikahan antara Silvi dan Dion. Jadi, buat kamu yang belum menikah, novel ini dapat sedikit-banyak memandumu untuk mempersiapkan pernikahan. Ditambah lagi, banyak sindiran dan sesuatu yang layak direnungkan jika kamu seorang muslim. Seperti ucapan Kiara, sahabat Silvi di halaman 165:

“Alquran itu kalau bisa diletakkan di tempat yang terjangkau, Sil. Supaya bisa terus dibaca dan selalu ada di hati kita. Itu cara memuliakan Alquran. Dibaca. Bukan disimpan di lemari dan disayang-sayang. Memangnya pajangan.”

Saya dapat menebak ending novel ini di bab-bab awal. Meskipun begitu, proses dan kelanjutan ceritanya membuat penasaran. Kesialan apa lagi yang akan menimpa Silvi dalam menyiapkan pernikahannya dengan dibantu Raka tukang ceramah. Karena nyaris tak ada persiapan dalam to do list-nya yang berjalan dengan lancar.

Novel dengan alur maju dan diceritakan dengan sudut pandang tokoh utamanya ini memang menarik dalam penceritaan maupun pesan-pesannya. Namun, ada satu hal yang cukup mengganggu, yaitu munculnya beberapa tokoh antagonis maupun tokoh latar yang sifatnya berlebihan seperti di sinetron-sinetron negeri ini. Yah, mungkin novel ini ditulis memang untuk menimbulkan kesan yang seperti itu kali, ya.

Empat bintang untuk novel yang sudah difilmkan ini (meskipun ketika melihat pemeran-pemerannya, saya kok merasa kurang sreg). Jadi pengin baca novel karya Mbak Achi TM yang lain. Akankah tetap kocak seperti novel ini?

😊

Judul: Insya Allah, Sah!

Penulis: Achi TM

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 332 hlm.

ISBN: 978-602-03-2465-5

#BookReview • Spammer – Ronny Mailindra



​Code name: Leak

Seorang hacker andal yang disewa pengusaha korup untuk menghalau langkah KPK.
Code name: Bocah_Koplak

Seorang spammer yang mendapatkan uang dari menyebarkan virus ke ribuan komputer secara acak.
Vergis tak menyangka kegiatan spamming yang dilakoninya akan mendatangkan bencana. Hidupnya berubah mencekam ketika ia diserang sekelompok orang yang berniat membunuhnya. Ternyata, tanpa sengaja, virus yang Vergis sebar berhasil mencuri file bukti tindak korupsi yang dilakukan Aven Dogoan bersama anggota DPR dan menteri. Aven pun bertekad, Vergis harus dihabisi.

Sialnya, kemana pun Vergis pergi, keberadaannya selalu berhasil dilacak oleh hacker bernama Leak. Karena tak bisa lari lagi, Vergis akhirnya memutuskan untuk balas melawan. Adu taktik serta kecerdikan tak terelakkan. Perang digital di antara kedua peretas tersebut menjadi semakin berbahaya, apalagi ketika Leak dan Aven berhasil menculik Rinjani, kekasih Vergis. Vergis pun harus mencari cara guna menyelamatkan kekasihnya, meski nyawa mereka menjadi taruhannya.

🕸

“Berteman dengan siapa saja, asal positif. Jangan pilih-pilih. Musibah bisa datang kapan saja dan di mana saja. Teman-teman yang baik bisa membantumu keluar dari musibah.”

—hlm. 177

Awalnya, saya takut tidak akan memahami isi novel ini karena dalam blurb-nya saja tertulis “perang digital di antara dua peretas”. Tentu saja dalam novel ini bertebaran istilah-istilah pemrograman. Namun, ternyata walaupun tidak bisa menguasai istilah-istilah itu, saya dapat menikmati alur novel yang menegangkan ini.

Garis besar ceritanya sudah dijelaskan di blurb novel ini. Dari awal bab saja sudah disajikan ketegangan dengan adegan kejar-kejaran antara Vergis sang spammer dengan orang-orang suruhan Aven Dogoan sang koruptor, dibantu oleh seorang hacker dengan nama kode Leak. Aksi kejar-kejaran ini menempati sekitar tiga-perempat bagian sendiri.

Novel ini tidak hanya menyajikan ketegangan yang berlarut-larut dari awal sampai akhir, tetapi juga ilmu tentang aktivitas spamming bagi orang-orang awam seperti saya. Ternyata iklan dan segala “surel sampah” yang terkirim ke kotak masuk surel kita itu berasal dari para spammer yang telah mengirim virus trojan yang akan “mencuri” alamat-alamat surel yang ada di dokumen komputer yang terjangkit virus tadi. Ini baru satu ilmu yang baru saya tahu. Masih banyak ilmu lain tentang dunia internet yang bisa kamu dapat jika membaca novel ini.

Pesan moral novel ini banyak yang berasal dari almarhum paman Vergis. Salah satunya yaitu kutipan di atas itu. Dan, pertemanan di dunia maya itu terkadang menjadi pertemanan yang nyata. Seperti pertemanan Vergis dengan orang dengan kode nama Dukun_101 yang membantunya dalam adu taktik perang di dunia maya maupun dunia nyata.

Hal yang sedikit mengganggu saya adalah detail yang saya rasa berbelit-belit, terutama di bagian separuh awal. Mungkin penulis bermaksud membangun suasana. Namun, saya malah merasa jemu. Mungkin ini masalah selera saja, sih.

Buat kamu yang suka membaca novel thriller dan aksi, bacalah novel ini. Banyak adegan pertarungan sepanjang ceritanya. 😁

🕸

🕸

🕸

Judul: Spammer

Penulis: Ronny Mailindra

Penerbit: Bentang Pustaka

Cetakan: Pertama, Juli 2016

Tebal: viii + 320 hlm.

ISBN: 978-602-291-189-0

Rating: ★★★★☆