#FFKamis • Perampokan Malam Itu

Pada pukul 23.00, seorang lelaki dengan pakaian serba hitam dan bermasker memasuki toko yang dengan mengacungkan parang. Aku tak sempat melakukan perlawanan maupun berteriak minta tolong. Dia langsung menyergapku, mengancamku, mengikat kaki dan tanganku, lalu menyumpal mulutku dengan kaos kaki berbau balsem yang nyaris membuatku pingsan.
Tentu saja aku sangat takut. Aku takut dituntut ganti rugi dan dipecat. Namun, bagaimana lagi, aku masih menyayangi nyawaku. Anehnya, lelaki itu cuma merampok dua batang cokelat.

Saat pulang keesokan harinya, aku mendengar dua pemulung cilik berujar, “Ayah dapat uang dari mana, ya, bisa ngasih kita cokelat mahal gini? Ayah, kan, baru sembuh dari demamnya.”

#FFKamis • Nilai Ujian Kimia

“Kariiiin, lo ke sini, deh! Cepetan!”
“Ada apa, sih? Heboh amat, lo.”

“Lihat, nih! Gila bener! Ngikutin pelajaran Kimia aja jarang, tapi nilai ujian semester lo bisa sebagus ini.”

“Gue cuma beruntung aja, San. Biar puas tuh guru killer sok ganteng yang kerjaannya ngomel melulu.”

“Tapi nggak mungkin banget kalo lo cuma beruntung. Soal pilihan gandanya aja cuma 30%.”

“Mmm, gue diam-diam ikut les Kimia kali, San. Hehehe.”

“What?! Anak kayak lo ikut les? Hello, gue nggak mimpi, nih?”

“Udah, ah. Gue mau cabut dulu. Ada les tambahan nih.” … di hotel bareng guru killer sok gantengku, lanjutku dalam hati.

#FFKamis • Klepon Pagi Ini

Pagi selalu indah kalau ditemani secangkir kopi dan beberapa butir klepon.Kuseruput kopi sedikit demi sedikit, lalu meraih sebutir klepon yang kubuat sendiri, bukan beli di pasar seperti biasanya. Ah, aku jadi ingat kejadian kemarin sore.

Waktu aku mandi, cowok tetangga kamar kosku naik ke atas bak kamar mandi sebelah. Aku sudah tahu sejak awal, tapi kubiarkan saja. Aku merasa sedikit terhormat bahwa ada cowok yang tak berkedip melihat dua bukit di dadaku. Atau mungkin dia lebih menikmati kemaluanku? Yang pasti, dinikmatinya bentuk tubuhku.

Sekarang, mari kita menikmati klepon istimewa ini. Klepon yang tadi malam masih berdenyut di rongga matanya.

#FFKamis • Mencintai Malam yang Malang

“Tolong, jangan tidur dulu. Temanilah aku sampai fajar tiba.”
Aku mendengar suara itu saat tengah malam bulan purnama. Suaranya begitu jernih, tenang, tetapi sarat duka.

“Siapa kamu?”

“Aku adalah malam buta. Aku kesepian. Jadi, temanilah aku saat bulan purnama. Saat orang-orang menikmati langitku, tapi aku tak bisa.”

Sejak saat itu, kami berteman baik. Kami bercerita banyak di bawah purnama. Malam terang meski tanpa lampu minyak.

***

“Kudengar, listrik akan masuk ke desa ini, ya?” tanyanya.

“Sepertinya begitu.”

Lalu tak ada lagi percakapan lanjutan.

***

Aku tahu dia begitu sedih. Namun, terbunuhnya orang-orang penting dalam program listrik masuk desa ini, semoga dapat menghiburnya.

#FFKamis • Kebohongan Demi Kebohongan

“Kamu jangan memfitnah anak saya, ya!”
“Saya jujur, Tante. Saya melihat sendiri, Agus dan Sari berhubungan badan di rumah kosong ujung jalan itu.”

Tante Rusti menangis tersedu-sedu di hadapanku. Sebenarnya aku hanya ingin membuat Agus terkena masalah karena lebih memilih cewek itu, tapi kelihatannya keputusanku salah. Tante Rusti terlalu lemah untuk menerima berita ini.

“Kalau sampai Sari hamil, bagaimana?” Tante Rusti berteriak. Aku tercekat.

Aku harus menjawab apa? Atau aku diam saja? Ah, kenapa pula aku harus bohong segala.

“Sebaiknya Agus menikahinya kalau sampai dia hamil,” kataku akhirnya.

“Sari itu anak Tante dari laki-laki lain. Agus tak pernah mengetahui ini.”

#FFKamis • Goresan Kata

“Sayangi dirimu, Nak. Masih ada kesempatan tahun depan,” ujar ibuku, saat memergokiku menggoreskan kata kelas di paha kananku dengan silet. Kala itu, aku tidak naik kelas. Tentu ini bukan karena aku bodoh, tapi karena aku menolak berbuat mesum dengan guruku.
“Sayangi dirimu, Sob. Pacarmu akan menyesal karena telah berselingkuh.” Aku hanya tertawa, sambil menggoreskan kata jalang di atas payudaraku. Membayangkan pacarku sedang bercumbu dengan kekasih barunya.

“Sayangi dirimu!”

“Sayangi dirimu!”

Asal kalian tahu, inilah caraku menyayangi diriku. Betapa nikmatnya saat silet bersentuhan dengan kulitku. Kres kres kres.

Dan, ya, aku hanya tidak pernah mau menyakiti orang yang berbuat jahat kepadaku.

– end –
(Efek setelah membaca Sharp Objects karya Gillian Flynn.)

#FlashFiction • Hadiah Kecil Untuk Ayah

Dua tahun yang lalu, ibu diperkosa oleh beberapa orang tak dikenal. Tidak hanya itu, mereka juga mengambil dua bola matanya yang sangat indah dan mencabut nyawanya.

Sejak saat itu, ayah menjadi sangat murung. Tubuhnya yang dulu kekar, kini tinggal tulang-belulang dibungkus kulit yang pucat dan keriput. Pandangannya pun sayu, seolah jiwanya ikut pergi bersama mata Ibu.

Kemarin, kulihat seorang wanita dengan mata sangat mirip dengan milik ibu. Kupikir ayah akan senang jika mengetahui ini.

“Ayah, saya punya hadiah kecil untukmu.”

Kukeluarkan toples berisi dua bola mata yang diselimuti darah.

“Kita dapat memasangnya pada lubang mata ibu. Dia pasti akan senang.”

(Terinspirasi dari ilustrasi sampul kumpulan cerita #HororisCausa yang entah mengapa tak berhasil saya unggah di sini.)