[Ulasan Buku] Kami (Bukan) Jongos Berdasi – J. S. Khairen

“Senang terus hidup ini ya tak mungkin.
Jatuh dan sedih terus, tak mungkin pula.
Sang Mahapasti tak seamatir itu menentukan plot hidup seseorang.”
—hlm. 78

Pernah mengalami kegalauan terhadap masa depan? Atau malah sedang mengalaminya?

Itulah yang sedang dialami beberapa kawan alumni kampus UDEL. Universitas yang konon berisi mahasiswa-mahasiswa “buangan”.

Ada Sania yang mengeluh terus saat bekerja di bank EEK dengan gaji yang kecil (sedangkan dia ingin jadi anak hits sampai-sampai melakukan peminjaman uang daring alias online), atasan yang sangat menurutnya tidak manusiawi, dsb; yang kemudian membuatnya kemudian memikirkan renjananya (passion) yang sempat tersingkirkan. Ada pula Arko yang belum lulus kuliah (sementara kampus UDEL akan ditutup) dan memilih jalan sebagai fotografer lepas yang membuatnya sudah berkeliling separuh Eropa, tapi kondisi keuangannya sangat parah. Dia diminta ibunya untuk kembali ke kampung halamannya, karena adiknya juga mau merantau untuk berkuliah di ibukota. Dan masih ada kisah kawan-kawan mereka yang sedang berada di persimpangan jalan, dalam fase quarter life crisis.

***

“Nikah tuh bukan balap-balapan, bukan sesuatu yang harus dikejar semua orang!”

—hlm. 172

Novel ini sungguh gempar menggelegar!

Novel ini menyajikan kisah yang sungguh sangat merakyat. Kisah yang saya yakin sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari, terutama bagi yang mau atau sudah bekerja. Perjuangannya, jatuh-bangunnya, perlakuan yang tidak mengenakkan, sampai memilih tetap bertahan pada lingkungan yang penuh intrik itu atau memperjuangkan impiannya. Setiap pilihan yang diambil tentu memiliki konsekuensi yang tak jarang merupakan konsekuensi yang besar.

Hal inilah yang membuat novel ini seperti cermin tempat saya berkaca dan merenungkan kembali keputusan-keputusan yang telah dan akan saya ambil dalam hidup ini.

***

Boleh saja ada seribu orang yang tak percaya pada impianmu.

Tapi pastikan dari seribu orang itu, dirimu sendiri bukan salah satunya.

—hlm. 119

Saya menyukai bagaimana penulis yang dijuluki Sang Jenderal Kata-Kata ini merangkai cerita dalam banyak sudut pandang dan banyak masalah. Semuanya disajikan dalam porsi yang pas. Yang masalahnya pelik tentu akan mendapatkan sorotan lebih banyak. Banyaknya sudut pandang ini, saya rasa akan membuat para pembacanya lebih familier karena bersinggungan dengan pengalamannya atau pengalaman orang-orang di dekatnya.

Rasa familier ini yang tentunya akan membuat perasaan ikut teraduk, ikut geregetan, ikut tertawa, bahkan ikut terpuruk di hadapan nasib yang tak terduga.

Ini juga mengapa novel ini layak dibaca banyak kalangan, mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, para pencari kerja, karyawan, orangtua, petinggi perusahaan, dsb. Karena novel ini menyajikan sebuah gambaran realita kerasnya dan busuknya kehidupan ini. Juga menampilkan proses untuk menjadi “seseorang” dengan keputusan-keputusan penting yang diambilnya, sehingga kita dapat menghargai proses tersebut.

Novel ini juga diselingi kalimat-kalimat yang sepatutnya kita renungkan pada tiap pergantian babnya dan juga dalam narasi ceritanya. Kalimat-kalimat yang kadang terasa begitu jleb di hati.

***

Novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi ini diceritakan dengan gaya penceritaan yang khas. Terkadang ada sedikit narasi yang lebay seperti dalam novel-novel komedi. Namun, hal ini tidak banyak dan membuat saya merasa seperti sedang mendengarkan penyiar radio yang sedang bercerita dengan diselingi humor-humor yang membuat cerita lebih renyah dan hidup.

Hal yang saya sayangkan (lagi-lagi) masalah pengetikan yang masih lumayan mengecewakan. Mulai dari salah tik, salah dalam penyebutan nama tokoh, sampai salah dalam penggunaan tanda petik dalam dialog. Dialog panjang yang kemudian dipisah ke dalam paragraf lain seharusnya belum ditutup dengan tanda petik, kan? Sampai ucapan orang yang sedang berbicara itu selesai, dan diganti ucapan lawan bicaranya. Sayangnya, kesalahan ini ada di sepanjang novel. Jadi, semoga saat cetak ulang nanti, masalah pengetikan ini bisa diperbaiki, ya.

***

Membaca novel ini membuat perasaan saya bercampur-aduk karena beberapa masalah yang dialami tokoh-tokohnya juga saya alami dalam kehidupan ini.

Dan saya jadi penasaran banget terhadap novel pertamanya, Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Penasaran banget dengan masa lalu Sania, Ogi, Juwisa, dkk.

Pada akhirnya, saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca siapa saja.

Terima kasih telah menuliskan novel ini, Mas J.S. Khairen. Terima kasih juga kepada Bukune yang telah menerbitkan buku ini dan mengizinkan saya mengulasnya.

Terima kasih!

Sang Mahapasti selalu penuh misteri, ia selalu memberikan apa yang dibisikkan pada langit. Namun cara dan waktunya memang tak jarang di luar logika.

—hlm. 353

Judul: Kami (Bukan) Jongos Berdasi
Penulis: J.S. Khairen
Penyunting: MB Winata
Penerbit: Bukune
Cetakan: 1, 2019
Tebal: vi+414 hlm.
Harga: Rp99.000,- (P. Jawa)

[Celoteh] Silakan Saja Membeli Buku Bajakan, Asalkan Kamu Tega

 (Sumber gambar: tribunnews.com)

Kampoeng Ilmu, salah satu pasar buku di Surabaya. (Sumber: tribunnews.com)

Jika kita bertandang ke pasar buku yang ada di Blok M di Jakarta, Jalan Semarang di Surabaya, Pasar Blauran di Surabaya, belakang Stadion Diponegoro di Semarang, dan pasar-pasar buku di kota-kota lain, kita akan dengan mudah menemukan buku bajakan. Bahkan, saya pernah mendapati banyak buku bajakan dijual di sebuah bazar buku di kota Kendal pada tahun 2016. Sungguh, perdagangan buku-buku bajakan ini sudah menjamur di Indonesia. Ditambah lagi dengan perkembangan teknologi yang memungkinkan para penjual buku bajakan menjual dagangannya secara daring, melalui akun media sosial maupun market place secara terang-terangan atau dengan sedikit tipuan yang mengatakan bahwa buku yang dijual merupakan buku orisinal.

Saya akui, saya sendiri pernah dua kali membeli buku bajakan di Surabaya beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya berpikir, tidak masalah sesekali membeli buku bajakan, toh saya sedang miskin. Jadilah saya membeli buku bajakan itu karena harganya yang sungguh menggiurkan. Waktu itu, saya membeli buku karangan Hamka dan Tere Liye yang harga aslinya masing-masing di atas Rp60.000,-. Versi bajakannya, saya dapatkan dengan harga masing-masing Rp15.000,- atau kurang dari seperempat harga buku orisinalnya. Sangat hemat, bukan?

Namun, pada akhirnya, kedua buku tersebut tidak pernah saya baca.

Pertama, kualitasnya sangat buruk. Ya, iya lah. Harganya saja segitu! Gambar cover-nya pecah-pecah, seperti saat kita mencetak foto dengan resolusi rendah, dengan jenis kertas yang juga jelek. Tampilan dan kualitas bukunya juga tak kalah buruk, seperti fotokopian jelek. Layout-nya juga tidak rapi. Bagi saya yang terbiasa membaca buku orisinal, hal ini sangat mengganggu dan menurunkan mood baca. Eh, tapi dengar-dengar, kualitas buku bajakan kini ada yang agak mirip buku orisinal, lho. Hmm.

Kedua, saat itu saya sedang rajin-rajinnya belajar menulis dan berkenalan dengan orang-orang yang sudah terbiasa menulis serta menerbitkan karyanya. Saya jadi tahu kalau menulis buku itu bukan perkara mudah dan murah. Contohnya saja perkara riset yang membutuhkan waktu ekstra dan biaya yang kadang tidak sedikit. Belum lagi untuk mengetik dan mengembangkan ide juga butuh waktu yang tidak singkat, juga laptop, kopi, serta penunjang-penunjang lainnya yang juga tidak gratis. Selain dari sisi penulis, hadirnya sebuah buku juga tidak lepas dari penyunting, layouter, desainer sampul, penerjemah, dan orang-orang penerbitan yang juga membutuhkan penghasilan dari pekerjaannya. Lalu, ketika saya membeli buku bajakan, mereka bakal mendapatkan apa? Tidak ada, kecuali hati yang nelangsa karena hasil kerjanya dirampas orang lain.

Atas pemahaman ini, saya tidak pernah lagi membeli buku bajakan. Saya merasa menzalimi banyak orang jika saya melakukannya (lagi).

***

“Kami butuh ilmu, tapi kami tidak punya uang. Sedangkan harga buku sangat mahal.”

Saya akui, harga buku menjadi semakin mahal tiap tahunnya. Tentu ini bukan tanpa sebab seperti naiknya harga kertas, pembelian copyright jika itu buku karya penulis luar negeri, dan lain sebagainya. Namun, menjadikan kemiskinan sebagai dalih untuk membeli buku bajakan juga tidak bisa dibenarkan. Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, bahwa hal ini sama saja merampas hak dan rezeki banyak orang yang berhak mendapatkannya.

Lantas, bagaimana agar bisa mengakses ilmu dari buku-buku itu jika harganya saja sangat mahal? Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dan saya akan memberitahukan kepada kalian apa yang telah saya lakukan.

1. Tentu saja dengan menabung. Saya belum menjadi orang kaya, atau setidaknya punya penghasilan cukup untuk memenuhi hasrat berbelanja buku. Jadi, agar tetap bisa berbelanja buku tiap bulannya, saya menyisihkan uang khusus untuk membeli buku. Jumlahnya pun tidak menentu, yang penting bisa menyisihkan. Alhamdulillah, cara ini efektif untuk saya guna memenuhi keinginan dan kebutuhan memiliki buku incaran.

2. Kalian punya ponsel pintar, kan? Unduhlah aplikasi perpustakaan digital seperti iPusnas, iJakarta, dan sejenisnya. Di sana, ada banyak buku yang bisa kita pinjam dan kita baca dari berbagai penerbit. Atau bisa juga mengunduh aplikasi menulis dan membaca cerita seperti Wattpad, Storial, dan sejenisnya. Kalau kalian mengeluh tidak nyaman membaca buku elektronik, cobalah sedikit demi sedikit. Insyaallah, nanti akan terbiasa dan ketagihan.

3. Kalau di tempat kalian ada perpustakaan kota, perpustakaan daerah, taman baca, dan sejenisnya, bisa juga meminjam buku di sana, lho. Kalau kalian asli berdomisili di kota itu, syarat-syaratnya mudah, kok. Pengalaman saya mendaftar menjadi anggota perpustakaan kota Kendal pada 2016 silam, saya hanya diminta mengisi formulir yang sudah disediakan, lalu foto di sana guna membuat kartu perpustakaannya.

4. Cari teman-teman yang suka membaca dan mengoleksi buku yang kita minati. Dengan cara ini, kita bisa saling meminjam buku, lho. Tapi ingat, jaga bukunya baik-baik guna menjaga kepercayaan teman kita, ya.

5. Ikutilah media sosial toko-toko buku daring (online), terutama toko yang sudah besar atau lumayan besar. Biasanya, mereka sering menggelar promo yang memungkinkan kita mendapatkan buku incaran dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga normal. Contohnya saja Mizan Store yang sering memberikan promo menarik, atau malah mengadakan flash sale yang memungkinkan kita membeli buku dengan diskon gila-gilaan. Beberapa hari yang lalu, saya berhasil membeli buku seharga lebih dari Rp200.000,- dengan hanya membayar Rp25.000,-. Sekarang, di Mizan Store juga ada promo gratis ongkos kirim juga yang bisa membuat kita lebih berhemat. Syarat dan ketentuan berlaku, ya. Saya rasa, ini merupakan salah satu upaya Mizan untuk melaksanakan misi #MizanLawanPembajakan.

Contoh promo buku murah di website mizanstore.com

6. Ikuti juga akun-akun penerbit dan bookstagrammer. Kalau ada bazar buku, biasanya banyak info di sana. Kalau pun lokasi promonya jauh dari tempat tinggal kita, kita bisa ikut jasa titup (jastip) dari akun-akun yang buka jastip. Ongkos jastipnya juga terhitung murah, biasanya.

7. Penulis, penerbit, dan bookstagrammer sering mengadakan giveaway berhadiah buku, lho. Ikut saja, jangan sungkan! Dengan melakukan aturan-aturan sederhana, kita mempunyai kesempatan untuk mendapatkan buku incaran kita.

8. Belanja buku bekas bisa menghemat pembelanjaan kita, lho. Banyak, kok, akun-akun di instagram yang berjualan buku bekas dan orisinal. Harganya pun banyak yang murah. Bahkan murah banget. Kalian bisa bertanya kepada saya jika ingin mengetahui beberapa akun yang berjualan buku bekas yang oke. Selain itu, para bookstagrammer juga kadang suka menjual buku-buku koleksi pribadinya yang sudah tidak mau dikoleksi lagi karena satu dan lain hal.

Itu delapan tip dari saya. Boleh banget menambahinya kalau ada yang belum saya sebutkan. Silakan tuliskan di kolom komentar, ya.

Dengan penjelasan saya di atas, masihkah kalian tergoda buku bajakan?

Perlu diingat, pembajakan buku adalah keniscayaan. Tidak akan musnah, apalagi musnah secara instan. Tapi, jika bukan kita yang memulai melawan pembajakan buku, siapa lagi yang akan memulainya? Bukankah segala perubahan besar dimulai dari perubahan-perubahan kecil?

Ah, tapi, silakan saja membeli buku bajakan. Uang juga uang kalian. Tapi, apakah hati nuranimu tega merampas rezeki banyak orang yang berhak atas rezeki itu?

#UlasanBuku KKN di Desa Penari – Simpleman

Judul: KKN di Desa Penari⁣
Penulis: Simpleman⁣
Penyunting: Sein Arlo⁣
Penyelaras Aksara: MB Winata⁣
Penerbit: Bukune⁣
Tebal: iv+256 hlm.⁣
Cetakan Pertama, 2019⁣

“Sebenarnya, warga di sini masih sangat menjunjung tinggi adat istiadat, dan itu adalah salah satu cara kami menghargai mereka yang sudah mendahului.”⁣
—hlm. 159⁣


Kalian pasti tahu, kan, utas viral di Twitter yang berjudul #KKNdiDesaPenari? Meskipun tidak mengikutinya, pasti kalian pernah mendengar sedikit tentangnya, kan?⁣

Jadi, cerita di utas Twitter tersebut kini disajikan dalam bentuk novel dan diterbitkan oleh Bukune.

Novel ini menceritakan enam orang mahasiswa yang mengajukan kegiatan KKN di sebuah desa terpencil. Dari jalan yang bisa dilalui mobil, mereka harus menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor selama 30 menit, melewati jalan setapak yang diapit hutan lebat.⁣

Dalam perjalanan ke sana saja, sebagian mereka telah menemukan keanehan. Sebagian mereka mendengar suara gamelan dan melihat penari di tengah hutan, sedangkan sebagian yang lain tidak.⁣

Sampai di desa, keanehan-keanehan semakin menjadi-jadi. Banyak sesajen di seluruh penjuru desa. Banyak tempat-tempat keramat. Bahkan ada satu tempat yang terlarang untuk dikunjungi.⁣

Sebagian mereka mengalami penampakan-penampakan di mana-mana. Sebagian lagi ada yang berusaha “ditarik” ke alam lain. Sebagian lainnya malah melanggar larangan dengan perbuatan yang tak dapat dimaafkan, hingga jiwa dan nyawa menjadi taruhan.⁣

Sebenarnya, ada misteri apa di desa tersebut?⁣

***

“Ngapain manggil setan, Mas, kalau di depan saya saja kelakuannya sudah kayak setan.”⁣
—hlm. 159⁣

Saya menyukai ….⁣

🧟‍♂️ Karakter tokoh-tokohnya yang kuat. Hal ini membuat saya merasa mengenal tokoh-tokohnya, terutama tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam cerita (Widya dan Nur).⁣

🧟‍♂️ Penggambaran latar dan suasana di awal-awal cerita sangat bagus. Kesan mistis dan seramnya dapat banget.⁣

🧟‍♂️ Saya menyukai amanat yang ingin disampaikan penulis, bahwa sebagai tamu, kita harus dapat memosisikan diri, menghormati, dan mematuhi aturan dari tuan rumah. Kalau dalam novel ini, mematuhi adat dan ritual di sana, demi keselamatan bersama.⁣

🧟‍♂️ Saya senang kisah ini dibukukan. Setidaknya, ini bisa jadi pancingan bagi orang yang belum gemar membaca untuk mulai membaca karena penasaran terhadap versi novelnya. Siapa tahu bisa jadi ketagihan membaca buku-buku yang lain, kan? 😄⁣

***

“Jangan menolak pemberian Tuan Rumah, itu tidak baik.”⁣
—hlm. 179⁣

Novel KKN di Desa Penari ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian Widya dan Nur. Alih-alih menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan Widya dan Nur menjadi fokus di setiap bagiannya.⁣

Karena garis waktu ceritanya sama, ada beberapa adegan dan dialog pada bagian Widya, yang diulang pada bagian Nur. Dialog yang sama persis. Alhasil, pada bagian ini saya bacanya melompat-lompat saja.⁣

Saya merasa akan lebih bagus jika bab Widya dan Nur ini diselang-seling saja, biar tidak ada pengulangan dialog dan adegan. Menggunakan sudut pandang orang pertama kayaknya bakalan lebih oke, deh. Ketakutan demi ketakutan yang Widya dan Nur alami jadi lebih terasa personal.⁣

Atau kalau menggunakan sudut pandang orang ketiga, fokusnya jangan hanya pada Widya dan Nur, tetapi pada keseluruhan tokoh mahasiswa KKN ini. Karena selain Widya dan Nur, ada tokoh lain yang mengalami kejadian yang lebih mencekam dan menakutkan, yang jika dieksplorasi tentu saja akan menjadi adegan-adegan yang lebih menyeramkan.⁣

***

“Apa yang kamu bawa, tidak hanya membuat dia marah, tapi banyak lagi yang marah-marah karena merasa terganggu dengan kehadiran tamu lain yang tanpa kamu sadari, kamu bawa masuk ke desa ini.”⁣
—hlm. 181⁣

Premis dan jalan cerita KKN di Desa Penari sangat menarik, dan disajikan dalam bahasa yang sederhana.⁣

Hanya saja, ada beberapa catatan yang kiranya bisa dijadikan perbaikan ke depannya:⁣

Pertama, selain Widya dan Nur, karakter tokoh lainnya belum digali secara maksimal. Jadi, tokoh lainnya tak memberikan porsi yang memadai dalam jalan cerita.⁣

Kedua, saya merasa pembangunan suasana mencekam hanya ada pada bagian awal saja. Jadi, horornya kurang berasa. Apalagi puncak horornya sebagian besar diceritakan pihak lain, bukan secara langsung saat itu terjadi. Jadi tak terasa membekas. Andai saja narator menjadi orang ketiga serbatahu, kejadian yang menimpa Ayu dan Bima ini sangat epic, lho. Tapi dengan begini–kabar baiknya—bagi yang tidak terbiasa dengan novel horor, bisalah membaca ini, karena cara penyajiannya tidak membuat takut.⁣

Ketiga, ada beberapa salah tik yang cukup mengganggu. Misal, seharusnya “tiga puluh menit”, ditulis “tiga menit”, dan itu berulang, pada bab awal pula.⁣

Andai diberi waktu lebih lama untuk menggodok naskah ini, saya yakin novel ini akan menjadi salah satu novel horor yang oke. Sayangnya, novel ini terlihat diterbitkan dengan terburu-buru—mungkin takut hype-nya menurun.⁣

Namun, bagi kamu yang mau mencicip novel horor, novel ini bisa jadi permulaan bagimu.⁣

Oh ya, dengar-dengar cerita ini akan difilmkan, ya? Dengan penggarapan yang bagus, saya yakin filmnya akan sangat menarik bagi pencinta horor.⁣ Semoga, ya.

Terima kasih atas kesempatan membaca dan mengulas novel ini, Bukune . 🙏🏼🙆🏻‍♂️💙⁣

“Bila dengan nikah semua masalah langsung selesai sih enak ya, tapi ingat dengan karma tabor tuai!”⁣
—hlm. 207⁣

#UlasanBuku Dance of the Butterfly – Ratu Kristina [Blogtour + Giveaway]

Judul: Dance of the Butterfly
Penulis: Ratu Kristina
Penerbit: Laksana
Tebal: 268 hlm.
Cetakan: Pertama, 2019

Membaca buku ini, saya seakan menemukan kepribadian saya yang menyebalkan: sangat pesimis.

Jadi, novel ini bercerita tentang Rambo, remaja laki-laki berumur enam belas tahun yang suka mengkhayal dan sangat pesimis. Sikap pesimisnya ini merupakan salah satu dampak bagaimana lingkungan memperlakukannya: ibunya selalu bersikap dingin terhadapnya, bahkan terkesan sangat membencinya sejak dia kecil. Ayah tirinya juga sering memperlakukannya dengan buruk dengan perkataan-perkataan yang selalu menjatuhkan. Di sekolah, dia dijauhi teman-temannya. Bahkan gurunya pun kadang merendahkannya, meskipun sebenarnya dia murid yang pintar.

Satu-satunya hal yang membuat dia semangat adalah gadis bernama Akasia yang dia cintai dalam diam-diam sejak lama. Hanya dengan mengamati dan melihatnya saja, dia sudah senang dan mengkhayal akan menjadi pacarnya suatu saat nanti. Tapi, dia tak pernah punya nyali untuk hanya sekadar berkenalan dengannya. Rasa rendah dirinya terlalu besar.

Suatu hari, karena dia sudah tak tahan lagi berada di rumah, Rambo kabur dengan menggunakan Triumph milik ayah tirinya. Saat dia melaju tanpa tahu tujuan dan lamunan betapa menderitanya dia, dia mengalami sebuah kecelakaan. Momen itulah yang mempertemukannya dengan orang asing bernama Chris yang menolongnya.

Di mata Rambo, Chris bagaikan malaikat penolong. Dia menjadi orang pertama yang memperlakukannya dengan baik. Orang pertama yang menganggapnya ada dan membuat Rambo merasa nyaman. Oh ya, FYI, usia Chris ini jauh di atas Rambo. Dia sudah menikah juga, dan sudah punya anak. Jadi, kedekatan Chris dan Rambo jadi semacam bromance gitu, bukan orang yang tertarik terhadap sesama jenis.

Namun, ternyata pertemuannya dengan Chris tak hanya membuat Rambo merasa disayangi. Hal itu juga menjadi pembuka jalan masuknya dirinya dalam pergaulan bersama Akasia, nasib persahabatannya bersama Isac—sahabat satu-satunya saat di SMP, sampai rahasia-rahasia gelap mengapa dia dinamai Rambo dan sangat dibenci ibunya.

Jadi, siapakah Chris sebenarnya?

***

“Rambo, kamu harus belajar untuk enggak selalu berpikir negatif pada orang lain. Terlalu percaya sama orang memang enggak baik, tapi selalu buruk sangka pun enggak lebih baik.”
—hlm. 65

Hal yang paling saya suka dari novel ini adalah amanat yang terkandung di dalamnya, baik tersirat maupun tersurat. Tentang passion, meraih mimpi, percaya pada kemampuan diri, pengorbanan, dsb. Dan yang paling penting, bagaimana kita memperlakukan seseorang bisa mengubah banyak pada kehidupan dan kepribadiannya, mungkin tanpa kita sadari.

Kisah yang diceritakan dengan menggunakan sudut pandang Rambo ini terkesan sendu, mengingat latar belakang Rambo yang seperti itu dan kegemarannya mengkhayal untuk sejenak lepas dari kenyataan. Bagaimana pesimisnya dia sampai kemudian karakternya berkembang pasca pertemuan dengan Chris terasa begitu nyata. Meskipun mendayu-dayu sendu, tapi cara bagaimana penulis menyajikan ceritanya asyik dan dengan pemilihan kata yang sederhana. Satu yang kurang dalam hal ini, cara berceritanya kurang maskulin, mengingat novel ini menggunakan sudut pandang cowok.

Novel ini lebih banyak menyorot hubungan antara Rambo dengan Chris. Bagaimana kemudian Rambo jadi semacam ketergantungan dengan kehadiran Chris, sebelum akhirnya dia juga harus terluka.

Dari jalinan kisah Rambo ini, satu saja hal yang lumayan mengganggu saat membacanya—tapi ini mungkin karena selera saja, sih—yaitu pembukaan tiap bab atau bagian cerita yang banyak mendeskripsikan latar tempat dan suasana yang kadang terlalu mendetail. Jadi, terasa tidak to-the-poin saja.

Nah, apakah kamu berminat memiliki dan membaca novel ini secara gratis? Penerbit Laksana menyediakan satu eks novel ini gratis buat kamu yang beruntung. Caranya:

1. Follow twitter @laksana_fiction atau like FB “Fiksi DIVA Press” atau IG @laksana_fiction (pilih salah satu saja).

2. Follow IG @dereizen atau twitter @aa_muizz (opsional).

3. Bagikan info GA ini di media sosialmu, jangan lupa tag atau mention akun media sosial pada poin nomor 1 dan 2.

4. Tuliskan di kolom komentar: nama, akun IG atau twitter atau FB, dan komentar apa pun tentang ulasan buku di atas.

5. Giveaway akan berlangsung sampai 6 Oktober 2019 dan akan diumumkan segera setelahnya di story IG dan di twitter saya.

6. Pastikan kamu punya alamat di Indonesia guna pengiriman hadiah jika menang, ya.

Good luck! 😊

PEMENANG GIVEAWAY

Selamat untuk @mafisilvy! Silakan DM saya di IG dengan mencantumkan nama, alamat, dan nomor HP untuk keperluan pengiriman hadiah, ya.

#UlasanBuku • Urban Thriller: Playing Victim – Eva Sri Rahayu

Novel Playing Victim ini menceritakan tiga orang sahabat—Afreen, Calya, dan Isvara—yang kecanduan media sosial sampai pada tahap social media anxiety disorder.⁣

Semua bermula dari tindakan mereka untuk membuat guru olahraganya yang berlaku semena-mena merasa bersalah. Ternyata, ada merekam tindakan mereka dan menyebarkannya ke dunia maya. Sejak saat itu, mereka jadi terkenal dan menarik simpati netizen.⁣

Namun, ketenaran dan simpati netizen itu kian lama kian menjadi candu. Akibatnya, mereka saling menjatuhkan satu sama lain, bahkan menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan lawannya.⁣

Lama-lama, permainan mereka semakin menjadi dan brutal:⁣
Afreen dengan masalah keluarganya.⁣
Calya dengan penguntitnya.⁣
Isvara dengan toxic relationship-nya.⁣
Ketiganya menghadapi sesuatu yang mengancam nyawa mereka. Herannya, mereka menjadikannya sebagai senjata untuk menarik perhatian netizen.⁣

Tahu, kan, seperti apa netizen yang berkomentar tanpa dipikir? Hal itu juga semakin membuat mereka bertiga jatuh lebih dalam dalam permainan yang mereka cipatakan. Membuat segalanya semakin rumit dan membuat mereka kehilangan kewarasan demi memuaskan hasrat netizen yang menginginkan akhir yang dramatis nan tragis.⁣

Lalu, bisakah mereka keluar dari permainan yang membahayakan, tidak hanya nyawa mereka, tapi juga menyerang kondisi psikologisnya? Ataukan mereka akan jatuh dalam keadaan tragis dan membuat haters bersorak gembira?⁣

“Ada ruang-ruang dalam hati manusia, salah satunya ditempati rasa bersalah.”⁣
—hlm. 10⁣

***

“Siapa bilang gue anti medsos? Gue cuma lebih suka komunikasi langsung, Cal. Media sosial mana pun suatu hari bakalan hilang, tetapi manusia selalu butuh bertemu, saling bicara dari hati ke hati.”⁣
—hlm. 107⁣

📱 Saya suka sekali dengan tema yang diangkat Teh Eva dalam novel ini. Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan kita yang mendatangkan banyak manfaat, mulai dari teman, relasi, ilmu, bahkan menjadi sarana untuk mendapatkan penghasilan. Namun, sesuatu yang berlebihan memberikan efek buruk, kan? Di sinilah Teh Eva memaparkan efek tersebut dengan cara yang indah sekaligus menegangkan: melalui cerita thriller.⁣

📱 Cerita bergulir dengan ketegangan yang bertahap. Kian ke belakang, kian menegangkan dan mencengangkan. Sedikit demi sedikit menuju puncak konflik yang semakin membuat saya mengelus dada saking geregetannya dengan ketiga tokoh utamanya.⁣

📱 Saat awal membaca novel ini (dulu membaca pertama di Wattpad UrbanThriller), saya kesulitan membedakan Calya dan Isvara. Tapi dengan kelihaian Teh Eva membangun karakter tokoh, hal itu tak berlangsung lama karena karakternya sungguh identik dan kuat. Hal ini pula yang membuat langkah yang mereka putuskan menjadi sangat masuk akal dan terjadi secara natural.⁣

📱 Saya suka bagaimana keadaan psikologis mereka berubah sedikit demi sedikit seiring ketenarannya. Dengan latar belakang kehidupan mereka sebelumnya yang kemudian memicu konflik utama, membuat saya kasihan, terharu, tapi tetap saja geregetan dan kesal. Sangat manusiawi dan terasa riil.⁣

📱 Novel ini diceritakan melalui sudut pandang orang ketiga, yang sebagian besar menyuarakan isi hati ketiga tokoh utamanya. Pembagiannya pun terasa adil. Tidak ada yang lebih mendominasi. Tetapi, tentu saja tidak semuanya disuarakan di awal, yang ternyata hampir semuanya berkaitan dan menciptakan plot twist di akhir cerita. Ya, ada dalang yang memicu semua ini, meskipun akhirnya tak bisa mengatur semua.

***

“Afreen mengesah panjang. Komentar-komentar itu menjelma tusukan-tusukan jarum yang membuat kepalanya pening. Tanpa sadar, dia menggigiti kulit jarinya. Serangan luka akibat gigitan yang terlalu dalam membuat Afreen tersadar. Sesaat, dia mengamati kulit jemarinya yang mengelupas dan menampakkan darah beku.”⁣
—hlm. 287⁣


Membaca penggalan paragraf di atas, kita dapat menyimpulkan betapa media sosial bisa membuat orang-orang yang sudah kecanduan, diserang depresi dan gangguan mental. Namun, novel ini tidak hanya menyoroti itu saja. Banyak “kehampaan” yang menjadi akar masalah yang sebenarnya.⁣

Hampir semua tokoh dalam novel ini menunjukkan kehampaan mereka masing-masing: akibat rasa bersalah, diabaikan, dirisak, dan lain-lain. Kehampaan-kehampaan itulah yang menurut saya menjadi penggerak utama cerita.⁣

Hanya saja, sebagian kehampaan itu teruangkap setelah mendekati akhir. Jadi, terasa agak tiba-tiba karena nyaris tak ada clue yang membuat kita bisa menebak ke mana cerita akan bermuara.⁣

Meskipun begitu, ada keasyikan tersendiri dalam membacanya. Ketegangan yang tidak membuat kita banyak menebak.⁣

***

⁣⁣

“Karena … dia sudah lama memberikan miliknya yang paling berharga: hati nurani.”⁣⁣
—hlm. 384⁣⁣

⁣⁣
Kalau kamu mencari novel thriller kekinian yang menegangkan dari awal sampai akhir, novel ini saya rekomendasikan untukmu.⁣⁣
⁣⁣
Bercerita tentang tiga sahabat yang kecanduan media sosial, saling bersaing, saling menjatuhkan, saling memusuhi, dan kemudian mengundang bahaya yang mengancam nyawa demi ketenaran dan simpati warganet.⁣⁣
⁣⁣
Hampir semua tokoh dalam novel ini “gila”: gila medsos, penguntit psikopat, “suka” menyiksa pacar, dsb. Sebagian besar kegilaan mereka bermuara kepada kurangnya perhatian dan tak ada tempat untuk menyalurkan uneg-uneg mereka.⁣⁣
⁣⁣
Sejak awal, saya tak bisa berhenti membaca novel ini. Penasaran banget bagaimana akhir kisah mereka, karena saya sama sekali tak bisa mengira-ngira premis cerita ini. Misteri apa yang disimpan di belakang juga masih sangat abu-abu, tapi bikin penasaran maksimal.⁣⁣
⁣⁣
Seperti seri urban thriller Noura yang sudah saya baca sebelumnya (Suicide Knot), saya juga sangat menyukai novel ini. Keduanya memberikan sensasi thriller yang sangat berbeda, tetapi sama-sama bikin puas. Bedanya, setelah membaca Playing Victim, saya merasa lega karena tidak lagi memikirkan bagaimana nasib mereka selanjutnya. Semuanya tuntas.⁣ Tapi untuk mencapai ke sana, capai sekali membayangkan kegilaan demi kegilaan yang tidak habis-habisnya. Bikin bergidik.
⁣⁣
Ah, jadi makin penasaran sama seri lainnya (The Good Neighbor, Every Wrong Thing, dan Dua Dini Hari), kan. Sabaaar … sabaaar.⁣⁣
⁣⁣
Terima kasih sudah menuliskan ini, Teh Eva. Juga terima kasih kepada Noura karena telah menerbitkannya. Selain sensasi thrillernya begitu terasa, novel ini juga sarat pesan tersirat maupun tersurat yang penting diketahui kaum milenial.⁣⁣
⁣⁣
Saya tunggu novel thriller selanjutnya, Teh Eva. 🙆🏻‍♂️😃⁣⁣

Judul: Playing Victim⁣⁣
Penulis: Eva Sri Rahayu⁣⁣
Penerbit: Noura Publishing
Penyunting: Yuli Pritania⁣⁣
Ilustrator Sampul: @sukutangan⁣⁣
Tebal: 400 hlm.⁣⁣
Cetakan: Pertama, 2019⁣⁣
⁣⁣

#UlasanBuku Midnight Restaurant – Daniel Ahmad

Judul: Midnight Restaurant
Penulis: Daniel Ahmad
Editor: Sulung S. Hanum & Ry Azzura
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2019
Tebal: iv + 306 hlm.
Genre: Novel Horor

Buku ini tentang ….

Saat jam antik di restoran bernama Hanggareksa berdentang dua belas kali, satu per satu dari mereka yang sedang menyantap makanan tersungkur dan meregang nyawa. Sandi yang baru beberapa menit masuk di restoran itu, segera berlari ke luar untuk mencari bantuan. Namun, saat dia menoleh ke belakang, yang dia dapati hanya restoran sepi yang terpampang tulisan “TUTUP”.

Sepulang mengantar pesanan untuk restoran itu, Lukman sering dihantui sesosok perempuan tua berwajah beringas saat mengendarai mobil tua milik bosnya. Beberapa kali sosok itu menjadi penyebab kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.

Baru beberapa hari bekerja di restoran itu, kesehatan Nova menurun. Dia sering pingsan, juga tak sadarkan diri. Dia pun sering mengalami kerasukan. Terparah, dia ingin mengakhiri hidupnya dengan loncat dari ketinggian.

Baik Sandi, Lukman, maupun Nova, ketiganya punya kisah yang sama; mengalami nasib buruk saat bersinggungan dengan Hanggareksa, restoran dengan bangunan peninggalan zaman Belanda.

Apa sebenarnya yang tersembunyi di sana?
Apakah ketiga kisah itu saling berkaitan?

Kamu bisa membuktikannya sendiri; masuk dan perhatikan sekitar, kamu akan temukan jawabannya.

___

Dari blurb tersebut, kita sudah dapat tahu apa yang disajikan buku ini. Tentang sebuah misteri menyeramkan di sebuah restoran bernama Hanggareksa.

Yang saya suka dari buku ini ….

Buku ini disajikan melalui sudut pandang orang pertama dari keempat tokoh utamanya. Setelah keempat tokoh ini memaparkan apa yang terjadi pada mereka, barulah narator orang ketiga masuk saat mereka dikumpulkan untuk menyingkap misteri apa yang disimpan restoran yang menempati gedung tua tersebut. Dengan penyajian seperti ini, saya merasa lebih mengenal para tokoh secara personal, sehingga kekuatan karakter mereka dibentuk dari hal ini.

Hal lain yang saya suka, misteri diungkap sedikit demi sedikit, yang membuat ketegangan semakin meningkat. Jujur saja, saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan membaca buku ini. Entah mengapa, hawanya merinding melulu membayangkan apa yang mereka lihat, terutama bagian yang dilihat Sandi baik di restoran maupun kontrakannya yang bertetanggaan dengan restoran itu.

Oh ya, Midnight Restaurant ini merupakan karya pertama Daniel Ahmad yang dibukukan, lho. Sebelumnya melalang buana dan terkenal sebagai penulis horor dan misteri di forum Kaskus dan Wattpad.

Sebagai novel pertama yang dibukukan, dari segi cerita dan penceritaan, novel ini termasuk sudah matang. Cara berceritanya juga terkesan cowok banget. Saya suka! Bagaimana penulis membangun cerita, sudah membuat saya penasaran sejak bab awal banget. Sampai pada pengungkapan misteri yang diungkapkan dengan sabar dan teliti.

Sejak awal, saya sudah dibuat merinding. Makanya saya membacanya saat badan sedang fit. Kalau sedang agak loyo, saya tidak siap dengan konsekuensi terbayang-bayang terus pada dua adegan paling menyeramkan bagi saya. Apa itu? Baca saja bukunya. Hehehe.

Saya menyukai endingnya yang tuntas, tapi menyisakan pertanyaan. Sepertinya bakalan ada seri keduanya. Semoga, ya. Saya menantikannya. Sepertinya bakalan lebih seru lagi.

Harapan saya ….

Satu hal yang saya sayangkan, masih banyak sekali salah tik. Mulai dari kata yang hilang, spasi dan tanda baca yang hadir di tengah-tengah kata. Harapan saya, jika novel ini cetak ulang, hal-hal semacam ini bisa diperbaiki. Bagi saya, hal ini bikin sebal. Apalagi diterbitkan oleh penerbit besar. Bukan berarti penerbit kecil boleh melakukan kesalahan ini, ya.

Buat kamu yang menyukai cerita horor yang seperti horor 90-an dan juga menyukai misteri, saya merekomendasikan novel ini untuk kamu baca. 😊

#UlasanBuku + Giveaway • Besali – Shabrina Ws

“Sekali ditinggalkan, kau bisa bilang rindu. Dua kali kehilangan, kau hanya mendekap sendirian perasaan sedihmu.”
Hlm. 55

Judul: Besali

Penulis: Shabrina Ws

Penyunting: Avifah Ve

Penerbit: Laksana

Cetakan: Pertama, 2019

Tebal: 292 hlm.

Harga: Rp68.000,00 (P. Jawa)

Seperti itulah yang dialami oleh Lohita Sasi. Setelah ibunya meninggal, kini ayahnya pun menyusul kepergian ibunya, yang membuat kekosongan di hatinya demikian terasa.

Masalahnya tidak berhenti di sana. Ayahnya meninggalkan surat wasiat yang disimpannya di bawah bantal. Melalui surat itu, ayahnya meminta Lohita untuk menjaga besali supaya tetap hidup.
Oh ya, besali itu merupakan bengkel pandai besi atau tempat kerja pandai besi. Besali milik ayah Lohita merupakan besali yang terkenal di daerah Pacitan, yang sudah diwariskan turun-temurun dan memuaskan para pelanggannya.

Bagaimana seorang gadis yang kesehariannya berkutat dengan toko buku kecilnya dapat menghidupkan besali? Kenapa dirinya yang diberi wasiat itu, bukan tiga kakak laki-lakinya yang kini tinggal dan bekerja di luar kota? Yah, meskipun Lohita tahu bahwa ketiga kakaknya memutuskan untuk tinggal dan bekerja di luar kota karena tidak berminat untuk menjadi pandai besi.

Yang mengusik hati Lohita juga, ayahnya menyebutkan nama Sapta dalam surat wasiatnya. Nama lelaki yang dihindari oleh Lohita dalam kurun waktu yang cukup lama ini sebenarnya adalah anak buah ayahnya yang paling ahli mande dan sudah dikenal bagus pekerjaannya. Tapi untuk menghubunginya, Lohita harus berpikir berkali-kali setelah sekian lama dia menjauhi laki-laki itu. Apa, sih, yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua?

Jika hidup diibaratkan musim, Lohita telah kehilangan peneduh sejak ayahnya meninggal. Lantas, bagaimana dia akan mendapatkan peneduh dalam segala musimnya? Tempat berteduh pada saat terik matahari membakar kulit dan saat hujan menghunjam dengan dinginnya? Apakah Sapta? Ataukah Rey, penyair yang sering mengisi waktu luangnya di toko buku Lohita?

***

Ini merupakan kali pertama saya membaca karya Mbak Shabrina Ws, meskipun nama beliau sudah tidak asing lagi bagi saya karena karya bukunya yang sudah banyak dan diterbitkan oleh beberapa penerbit. Saya menyukai kata-kata yang dijalinnya: sederhana dan sedikit puitis. Keindahan kata-katanya jadi terasa pas dan tidak membuat gumoh.

Menurut saya, cerita dalam novel ini juga begitu lembut terjalin. Bukan tipe novel dengan konflik meledak-ledak, akan tetapi bisa menyentuh saat membacanya.

Melihat judulnya, saya kira akan banyak menjumpai proses-proses dan kegiatan di balik besali. Memang ada pembahasannya, tapi tidak banyak, hanya menyesuaikan dengan kebutuhan cerita saja.

Banyak sekali pesan moral yang bisa saya ambil setelah membaca novel ini, baik yang tersurat maupun tersirat. Ada yang melalui jalinan kisahnya, ada pula yang ada dalam kutipan tiap awal bab yang tentu saja berkaitan dengan alur kisahnya.
Novel ini juga tidak melulu tentang Lohita, tetapi juga tentang lingkungan sekitarnya yang dapat memberikan inspirasi kepada para pembacanya, terutama tentang keluarga, kehilangan, dan perjuangan hidup yang bisa membuat hati hangat.

PENGUMUMAN PEMENANG

Selamat untuk Ahmad Azwar Aa! Kamu memenangkan satu eksemplar novel Besali dari Laksana Fiction. Segera DM-kan nama, alamat, dan nomor HP ke Twitter atau IG saya, ya. 🙂