[Ulasan Buku] Kami (Bukan) Jongos Berdasi – J. S. Khairen

“Senang terus hidup ini ya tak mungkin.
Jatuh dan sedih terus, tak mungkin pula.
Sang Mahapasti tak seamatir itu menentukan plot hidup seseorang.”
—hlm. 78

Pernah mengalami kegalauan terhadap masa depan? Atau malah sedang mengalaminya?

Itulah yang sedang dialami beberapa kawan alumni kampus UDEL. Universitas yang konon berisi mahasiswa-mahasiswa “buangan”.

Ada Sania yang mengeluh terus saat bekerja di bank EEK dengan gaji yang kecil (sedangkan dia ingin jadi anak hits sampai-sampai melakukan peminjaman uang daring alias online), atasan yang sangat menurutnya tidak manusiawi, dsb; yang kemudian membuatnya kemudian memikirkan renjananya (passion) yang sempat tersingkirkan. Ada pula Arko yang belum lulus kuliah (sementara kampus UDEL akan ditutup) dan memilih jalan sebagai fotografer lepas yang membuatnya sudah berkeliling separuh Eropa, tapi kondisi keuangannya sangat parah. Dia diminta ibunya untuk kembali ke kampung halamannya, karena adiknya juga mau merantau untuk berkuliah di ibukota. Dan masih ada kisah kawan-kawan mereka yang sedang berada di persimpangan jalan, dalam fase quarter life crisis.

***

“Nikah tuh bukan balap-balapan, bukan sesuatu yang harus dikejar semua orang!”

—hlm. 172

Novel ini sungguh gempar menggelegar!

Novel ini menyajikan kisah yang sungguh sangat merakyat. Kisah yang saya yakin sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari, terutama bagi yang mau atau sudah bekerja. Perjuangannya, jatuh-bangunnya, perlakuan yang tidak mengenakkan, sampai memilih tetap bertahan pada lingkungan yang penuh intrik itu atau memperjuangkan impiannya. Setiap pilihan yang diambil tentu memiliki konsekuensi yang tak jarang merupakan konsekuensi yang besar.

Hal inilah yang membuat novel ini seperti cermin tempat saya berkaca dan merenungkan kembali keputusan-keputusan yang telah dan akan saya ambil dalam hidup ini.

***

Boleh saja ada seribu orang yang tak percaya pada impianmu.

Tapi pastikan dari seribu orang itu, dirimu sendiri bukan salah satunya.

—hlm. 119

Saya menyukai bagaimana penulis yang dijuluki Sang Jenderal Kata-Kata ini merangkai cerita dalam banyak sudut pandang dan banyak masalah. Semuanya disajikan dalam porsi yang pas. Yang masalahnya pelik tentu akan mendapatkan sorotan lebih banyak. Banyaknya sudut pandang ini, saya rasa akan membuat para pembacanya lebih familier karena bersinggungan dengan pengalamannya atau pengalaman orang-orang di dekatnya.

Rasa familier ini yang tentunya akan membuat perasaan ikut teraduk, ikut geregetan, ikut tertawa, bahkan ikut terpuruk di hadapan nasib yang tak terduga.

Ini juga mengapa novel ini layak dibaca banyak kalangan, mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, para pencari kerja, karyawan, orangtua, petinggi perusahaan, dsb. Karena novel ini menyajikan sebuah gambaran realita kerasnya dan busuknya kehidupan ini. Juga menampilkan proses untuk menjadi “seseorang” dengan keputusan-keputusan penting yang diambilnya, sehingga kita dapat menghargai proses tersebut.

Novel ini juga diselingi kalimat-kalimat yang sepatutnya kita renungkan pada tiap pergantian babnya dan juga dalam narasi ceritanya. Kalimat-kalimat yang kadang terasa begitu jleb di hati.

***

Novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi ini diceritakan dengan gaya penceritaan yang khas. Terkadang ada sedikit narasi yang lebay seperti dalam novel-novel komedi. Namun, hal ini tidak banyak dan membuat saya merasa seperti sedang mendengarkan penyiar radio yang sedang bercerita dengan diselingi humor-humor yang membuat cerita lebih renyah dan hidup.

Hal yang saya sayangkan (lagi-lagi) masalah pengetikan yang masih lumayan mengecewakan. Mulai dari salah tik, salah dalam penyebutan nama tokoh, sampai salah dalam penggunaan tanda petik dalam dialog. Dialog panjang yang kemudian dipisah ke dalam paragraf lain seharusnya belum ditutup dengan tanda petik, kan? Sampai ucapan orang yang sedang berbicara itu selesai, dan diganti ucapan lawan bicaranya. Sayangnya, kesalahan ini ada di sepanjang novel. Jadi, semoga saat cetak ulang nanti, masalah pengetikan ini bisa diperbaiki, ya.

***

Membaca novel ini membuat perasaan saya bercampur-aduk karena beberapa masalah yang dialami tokoh-tokohnya juga saya alami dalam kehidupan ini.

Dan saya jadi penasaran banget terhadap novel pertamanya, Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Penasaran banget dengan masa lalu Sania, Ogi, Juwisa, dkk.

Pada akhirnya, saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca siapa saja.

Terima kasih telah menuliskan novel ini, Mas J.S. Khairen. Terima kasih juga kepada Bukune yang telah menerbitkan buku ini dan mengizinkan saya mengulasnya.

Terima kasih!

Sang Mahapasti selalu penuh misteri, ia selalu memberikan apa yang dibisikkan pada langit. Namun cara dan waktunya memang tak jarang di luar logika.

—hlm. 353

Judul: Kami (Bukan) Jongos Berdasi
Penulis: J.S. Khairen
Penyunting: MB Winata
Penerbit: Bukune
Cetakan: 1, 2019
Tebal: vi+414 hlm.
Harga: Rp99.000,- (P. Jawa)

[Celoteh] Silakan Saja Membeli Buku Bajakan, Asalkan Kamu Tega

 (Sumber gambar: tribunnews.com)

Kampoeng Ilmu, salah satu pasar buku di Surabaya. (Sumber: tribunnews.com)

Jika kita bertandang ke pasar buku yang ada di Blok M di Jakarta, Jalan Semarang di Surabaya, Pasar Blauran di Surabaya, belakang Stadion Diponegoro di Semarang, dan pasar-pasar buku di kota-kota lain, kita akan dengan mudah menemukan buku bajakan. Bahkan, saya pernah mendapati banyak buku bajakan dijual di sebuah bazar buku di kota Kendal pada tahun 2016. Sungguh, perdagangan buku-buku bajakan ini sudah menjamur di Indonesia. Ditambah lagi dengan perkembangan teknologi yang memungkinkan para penjual buku bajakan menjual dagangannya secara daring, melalui akun media sosial maupun market place secara terang-terangan atau dengan sedikit tipuan yang mengatakan bahwa buku yang dijual merupakan buku orisinal.

Saya akui, saya sendiri pernah dua kali membeli buku bajakan di Surabaya beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya berpikir, tidak masalah sesekali membeli buku bajakan, toh saya sedang miskin. Jadilah saya membeli buku bajakan itu karena harganya yang sungguh menggiurkan. Waktu itu, saya membeli buku karangan Hamka dan Tere Liye yang harga aslinya masing-masing di atas Rp60.000,-. Versi bajakannya, saya dapatkan dengan harga masing-masing Rp15.000,- atau kurang dari seperempat harga buku orisinalnya. Sangat hemat, bukan?

Namun, pada akhirnya, kedua buku tersebut tidak pernah saya baca.

Pertama, kualitasnya sangat buruk. Ya, iya lah. Harganya saja segitu! Gambar cover-nya pecah-pecah, seperti saat kita mencetak foto dengan resolusi rendah, dengan jenis kertas yang juga jelek. Tampilan dan kualitas bukunya juga tak kalah buruk, seperti fotokopian jelek. Layout-nya juga tidak rapi. Bagi saya yang terbiasa membaca buku orisinal, hal ini sangat mengganggu dan menurunkan mood baca. Eh, tapi dengar-dengar, kualitas buku bajakan kini ada yang agak mirip buku orisinal, lho. Hmm.

Kedua, saat itu saya sedang rajin-rajinnya belajar menulis dan berkenalan dengan orang-orang yang sudah terbiasa menulis serta menerbitkan karyanya. Saya jadi tahu kalau menulis buku itu bukan perkara mudah dan murah. Contohnya saja perkara riset yang membutuhkan waktu ekstra dan biaya yang kadang tidak sedikit. Belum lagi untuk mengetik dan mengembangkan ide juga butuh waktu yang tidak singkat, juga laptop, kopi, serta penunjang-penunjang lainnya yang juga tidak gratis. Selain dari sisi penulis, hadirnya sebuah buku juga tidak lepas dari penyunting, layouter, desainer sampul, penerjemah, dan orang-orang penerbitan yang juga membutuhkan penghasilan dari pekerjaannya. Lalu, ketika saya membeli buku bajakan, mereka bakal mendapatkan apa? Tidak ada, kecuali hati yang nelangsa karena hasil kerjanya dirampas orang lain.

Atas pemahaman ini, saya tidak pernah lagi membeli buku bajakan. Saya merasa menzalimi banyak orang jika saya melakukannya (lagi).

***

“Kami butuh ilmu, tapi kami tidak punya uang. Sedangkan harga buku sangat mahal.”

Saya akui, harga buku menjadi semakin mahal tiap tahunnya. Tentu ini bukan tanpa sebab seperti naiknya harga kertas, pembelian copyright jika itu buku karya penulis luar negeri, dan lain sebagainya. Namun, menjadikan kemiskinan sebagai dalih untuk membeli buku bajakan juga tidak bisa dibenarkan. Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, bahwa hal ini sama saja merampas hak dan rezeki banyak orang yang berhak mendapatkannya.

Lantas, bagaimana agar bisa mengakses ilmu dari buku-buku itu jika harganya saja sangat mahal? Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dan saya akan memberitahukan kepada kalian apa yang telah saya lakukan.

1. Tentu saja dengan menabung. Saya belum menjadi orang kaya, atau setidaknya punya penghasilan cukup untuk memenuhi hasrat berbelanja buku. Jadi, agar tetap bisa berbelanja buku tiap bulannya, saya menyisihkan uang khusus untuk membeli buku. Jumlahnya pun tidak menentu, yang penting bisa menyisihkan. Alhamdulillah, cara ini efektif untuk saya guna memenuhi keinginan dan kebutuhan memiliki buku incaran.

2. Kalian punya ponsel pintar, kan? Unduhlah aplikasi perpustakaan digital seperti iPusnas, iJakarta, dan sejenisnya. Di sana, ada banyak buku yang bisa kita pinjam dan kita baca dari berbagai penerbit. Atau bisa juga mengunduh aplikasi menulis dan membaca cerita seperti Wattpad, Storial, dan sejenisnya. Kalau kalian mengeluh tidak nyaman membaca buku elektronik, cobalah sedikit demi sedikit. Insyaallah, nanti akan terbiasa dan ketagihan.

3. Kalau di tempat kalian ada perpustakaan kota, perpustakaan daerah, taman baca, dan sejenisnya, bisa juga meminjam buku di sana, lho. Kalau kalian asli berdomisili di kota itu, syarat-syaratnya mudah, kok. Pengalaman saya mendaftar menjadi anggota perpustakaan kota Kendal pada 2016 silam, saya hanya diminta mengisi formulir yang sudah disediakan, lalu foto di sana guna membuat kartu perpustakaannya.

4. Cari teman-teman yang suka membaca dan mengoleksi buku yang kita minati. Dengan cara ini, kita bisa saling meminjam buku, lho. Tapi ingat, jaga bukunya baik-baik guna menjaga kepercayaan teman kita, ya.

5. Ikutilah media sosial toko-toko buku daring (online), terutama toko yang sudah besar atau lumayan besar. Biasanya, mereka sering menggelar promo yang memungkinkan kita mendapatkan buku incaran dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga normal. Contohnya saja Mizan Store yang sering memberikan promo menarik, atau malah mengadakan flash sale yang memungkinkan kita membeli buku dengan diskon gila-gilaan. Beberapa hari yang lalu, saya berhasil membeli buku seharga lebih dari Rp200.000,- dengan hanya membayar Rp25.000,-. Sekarang, di Mizan Store juga ada promo gratis ongkos kirim juga yang bisa membuat kita lebih berhemat. Syarat dan ketentuan berlaku, ya. Saya rasa, ini merupakan salah satu upaya Mizan untuk melaksanakan misi #MizanLawanPembajakan.

Contoh promo buku murah di website mizanstore.com

6. Ikuti juga akun-akun penerbit dan bookstagrammer. Kalau ada bazar buku, biasanya banyak info di sana. Kalau pun lokasi promonya jauh dari tempat tinggal kita, kita bisa ikut jasa titup (jastip) dari akun-akun yang buka jastip. Ongkos jastipnya juga terhitung murah, biasanya.

7. Penulis, penerbit, dan bookstagrammer sering mengadakan giveaway berhadiah buku, lho. Ikut saja, jangan sungkan! Dengan melakukan aturan-aturan sederhana, kita mempunyai kesempatan untuk mendapatkan buku incaran kita.

8. Belanja buku bekas bisa menghemat pembelanjaan kita, lho. Banyak, kok, akun-akun di instagram yang berjualan buku bekas dan orisinal. Harganya pun banyak yang murah. Bahkan murah banget. Kalian bisa bertanya kepada saya jika ingin mengetahui beberapa akun yang berjualan buku bekas yang oke. Selain itu, para bookstagrammer juga kadang suka menjual buku-buku koleksi pribadinya yang sudah tidak mau dikoleksi lagi karena satu dan lain hal.

Itu delapan tip dari saya. Boleh banget menambahinya kalau ada yang belum saya sebutkan. Silakan tuliskan di kolom komentar, ya.

Dengan penjelasan saya di atas, masihkah kalian tergoda buku bajakan?

Perlu diingat, pembajakan buku adalah keniscayaan. Tidak akan musnah, apalagi musnah secara instan. Tapi, jika bukan kita yang memulai melawan pembajakan buku, siapa lagi yang akan memulainya? Bukankah segala perubahan besar dimulai dari perubahan-perubahan kecil?

Ah, tapi, silakan saja membeli buku bajakan. Uang juga uang kalian. Tapi, apakah hati nuranimu tega merampas rezeki banyak orang yang berhak atas rezeki itu?

#UlasanBuku KKN di Desa Penari – Simpleman

Judul: KKN di Desa Penari⁣
Penulis: Simpleman⁣
Penyunting: Sein Arlo⁣
Penyelaras Aksara: MB Winata⁣
Penerbit: Bukune⁣
Tebal: iv+256 hlm.⁣
Cetakan Pertama, 2019⁣

“Sebenarnya, warga di sini masih sangat menjunjung tinggi adat istiadat, dan itu adalah salah satu cara kami menghargai mereka yang sudah mendahului.”⁣
—hlm. 159⁣


Kalian pasti tahu, kan, utas viral di Twitter yang berjudul #KKNdiDesaPenari? Meskipun tidak mengikutinya, pasti kalian pernah mendengar sedikit tentangnya, kan?⁣

Jadi, cerita di utas Twitter tersebut kini disajikan dalam bentuk novel dan diterbitkan oleh Bukune.

Novel ini menceritakan enam orang mahasiswa yang mengajukan kegiatan KKN di sebuah desa terpencil. Dari jalan yang bisa dilalui mobil, mereka harus menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor selama 30 menit, melewati jalan setapak yang diapit hutan lebat.⁣

Dalam perjalanan ke sana saja, sebagian mereka telah menemukan keanehan. Sebagian mereka mendengar suara gamelan dan melihat penari di tengah hutan, sedangkan sebagian yang lain tidak.⁣

Sampai di desa, keanehan-keanehan semakin menjadi-jadi. Banyak sesajen di seluruh penjuru desa. Banyak tempat-tempat keramat. Bahkan ada satu tempat yang terlarang untuk dikunjungi.⁣

Sebagian mereka mengalami penampakan-penampakan di mana-mana. Sebagian lagi ada yang berusaha “ditarik” ke alam lain. Sebagian lainnya malah melanggar larangan dengan perbuatan yang tak dapat dimaafkan, hingga jiwa dan nyawa menjadi taruhan.⁣

Sebenarnya, ada misteri apa di desa tersebut?⁣

***

“Ngapain manggil setan, Mas, kalau di depan saya saja kelakuannya sudah kayak setan.”⁣
—hlm. 159⁣

Saya menyukai ….⁣

🧟‍♂️ Karakter tokoh-tokohnya yang kuat. Hal ini membuat saya merasa mengenal tokoh-tokohnya, terutama tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam cerita (Widya dan Nur).⁣

🧟‍♂️ Penggambaran latar dan suasana di awal-awal cerita sangat bagus. Kesan mistis dan seramnya dapat banget.⁣

🧟‍♂️ Saya menyukai amanat yang ingin disampaikan penulis, bahwa sebagai tamu, kita harus dapat memosisikan diri, menghormati, dan mematuhi aturan dari tuan rumah. Kalau dalam novel ini, mematuhi adat dan ritual di sana, demi keselamatan bersama.⁣

🧟‍♂️ Saya senang kisah ini dibukukan. Setidaknya, ini bisa jadi pancingan bagi orang yang belum gemar membaca untuk mulai membaca karena penasaran terhadap versi novelnya. Siapa tahu bisa jadi ketagihan membaca buku-buku yang lain, kan? 😄⁣

***

“Jangan menolak pemberian Tuan Rumah, itu tidak baik.”⁣
—hlm. 179⁣

Novel KKN di Desa Penari ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian Widya dan Nur. Alih-alih menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan Widya dan Nur menjadi fokus di setiap bagiannya.⁣

Karena garis waktu ceritanya sama, ada beberapa adegan dan dialog pada bagian Widya, yang diulang pada bagian Nur. Dialog yang sama persis. Alhasil, pada bagian ini saya bacanya melompat-lompat saja.⁣

Saya merasa akan lebih bagus jika bab Widya dan Nur ini diselang-seling saja, biar tidak ada pengulangan dialog dan adegan. Menggunakan sudut pandang orang pertama kayaknya bakalan lebih oke, deh. Ketakutan demi ketakutan yang Widya dan Nur alami jadi lebih terasa personal.⁣

Atau kalau menggunakan sudut pandang orang ketiga, fokusnya jangan hanya pada Widya dan Nur, tetapi pada keseluruhan tokoh mahasiswa KKN ini. Karena selain Widya dan Nur, ada tokoh lain yang mengalami kejadian yang lebih mencekam dan menakutkan, yang jika dieksplorasi tentu saja akan menjadi adegan-adegan yang lebih menyeramkan.⁣

***

“Apa yang kamu bawa, tidak hanya membuat dia marah, tapi banyak lagi yang marah-marah karena merasa terganggu dengan kehadiran tamu lain yang tanpa kamu sadari, kamu bawa masuk ke desa ini.”⁣
—hlm. 181⁣

Premis dan jalan cerita KKN di Desa Penari sangat menarik, dan disajikan dalam bahasa yang sederhana.⁣

Hanya saja, ada beberapa catatan yang kiranya bisa dijadikan perbaikan ke depannya:⁣

Pertama, selain Widya dan Nur, karakter tokoh lainnya belum digali secara maksimal. Jadi, tokoh lainnya tak memberikan porsi yang memadai dalam jalan cerita.⁣

Kedua, saya merasa pembangunan suasana mencekam hanya ada pada bagian awal saja. Jadi, horornya kurang berasa. Apalagi puncak horornya sebagian besar diceritakan pihak lain, bukan secara langsung saat itu terjadi. Jadi tak terasa membekas. Andai saja narator menjadi orang ketiga serbatahu, kejadian yang menimpa Ayu dan Bima ini sangat epic, lho. Tapi dengan begini–kabar baiknya—bagi yang tidak terbiasa dengan novel horor, bisalah membaca ini, karena cara penyajiannya tidak membuat takut.⁣

Ketiga, ada beberapa salah tik yang cukup mengganggu. Misal, seharusnya “tiga puluh menit”, ditulis “tiga menit”, dan itu berulang, pada bab awal pula.⁣

Andai diberi waktu lebih lama untuk menggodok naskah ini, saya yakin novel ini akan menjadi salah satu novel horor yang oke. Sayangnya, novel ini terlihat diterbitkan dengan terburu-buru—mungkin takut hype-nya menurun.⁣

Namun, bagi kamu yang mau mencicip novel horor, novel ini bisa jadi permulaan bagimu.⁣

Oh ya, dengar-dengar cerita ini akan difilmkan, ya? Dengan penggarapan yang bagus, saya yakin filmnya akan sangat menarik bagi pencinta horor.⁣ Semoga, ya.

Terima kasih atas kesempatan membaca dan mengulas novel ini, Bukune . 🙏🏼🙆🏻‍♂️💙⁣

“Bila dengan nikah semua masalah langsung selesai sih enak ya, tapi ingat dengan karma tabor tuai!”⁣
—hlm. 207⁣