#BookReview Rumah Kremasi

Judul: RUMAH KREMASI

Penulis: Ayu Welirang
Penyunting: Kalen
Desain Sampul: Sukutangan
Penerbit: Maneno Books
Tebal: v + 122 hlm.

Halo, Kawaneizen. Ada satu buku keren lagi nih yang diterbitkan Maneno Books , tapi kali ini bukan novel, melainkan kumpulan cerpen dengan judul RUMAH KREMASI. Buku ini memuat cerpen-cerpen karya Ayu Welirang yang tersebar di berbagai media dalam kurun waktu 2012-2018.

Ngomong-ngomong, saya merasa tidak asing dengan nama penulis (selain sering lihat namanya di akun Detective ID). Eh, ternyata beliau ini penulis HALO, TIFA (GPU, 2016) yang cover-nya cakep itu. Pantas saja. Hahaha.

Oke, sebelum saya jauh melantur, saya bakalan memberi ulasan singkat terhadap cerpen-cerpen dalam buku ini. Karena terbitan Maneno, maka pasti cerpennya ada unsur misteri, thriller, dan saudara-saudaranya.

1. Dᴏɴɢᴇɴɢ Mʙᴀʜ

Bercerita tentang ritual malam lebaran di rumah simbah (nenek) tokoh aku. Si aku dan para sepupunya duduk melingkar untuk mendengarkan cerita simbahnya. Kali ini, simbah bercerita tentang fenomena babi ngepet yang pernah terjadi di kampungnya.

Ceritanya sederhana dan nggak bertele-tele. Kritik sosial disampaikan dengan luwes. Ada twist-nya di akhir, tapi kalau jeli, sudah tertebak dari tengah. Hehehe. Kekurangannya menurut saya sih emosinya yang kurang, jadi agak datar pas bacanya.

2. Tᴇᴢᴄᴀᴛʟɪᴘᴏᴄᴀ

Sepulang kerja dan setelah membersihkan diri, tokoh aku menemukan lelaki asing dengan sepatu mengkilap dan setelan jas compang-camping. Padahal pintu kamarnya telah dia kunci. Setelah ditanya, lelaki itu bilang bahwa dia adalah pewarta dari masa depan, abad ke-22. Terjadilah obrolan tentang bumi di masa itu.

Dalam cerpen ini, saya merasakan hawa-hawa sureal dan dystopia. Cukup menarik, apalagi gambaran bumi di masa depan beserta kelakuan penghuninya. Namun, saya kok merasa ada bagian kesurealisannya membuat rancu antara masa kini dengan abad ke-22 yang dikisahkan.

3. Mɪɢᴅᴀʟ Bᴀᴠᴇʟ

Berkisah tentang menara yang dibangun dengan keringat dan darah manusia yang satu bahasa hingga mencapai langit-langit bumi, tempat yang sangat dekat dengan surga. Namun, hal ini membuat Tuhan murka.

Saya menangkap cerpen ini sebagai suatu metafora hubungan manusia dengan Tuhan dan juga hubungan dengan sesama. Tentang hubungan yang bagaimana? Saya tak mau menceritakannya di sini, nanti malah spoiler. Dari beberapa hal yang ada dalam cerpen, saya rasa ada sebagian yang terinspirasi dari kitab suci ataupun kisah dewa-dewa. Benarkah?

4. Sᴇᴍʙᴜɴʏɪ ᴅɪ Tᴇᴘɪ Jᴇɴᴅᴇʟᴀ Lᴀɴᴛᴀɪ Dᴜᴀ

Tentang cinta seorang perempuan yang mencintai lelaki yang menyuguhkannya banyak materi. Namun, di balik cintanya, lelaki itu mempunyai ‘wajah’ lain dan juga perempuan lain.

Perempuan itu menuliskan surat yang berisi lirik lagu Hidden Place milik Bjork. Buat apa? Nah, baca sendirilah ceritanya. Kita akan dibawa dalam relung perasaan sang perempuan yang sangat pekat, penuh luka, dan amarah.

5. Jɪᴋᴀ Mᴀsɪʜ Aᴅᴀ Kᴇᴅᴀɪ ʏᴀɴɢ Bᴜᴋᴀ

Cerpen ini berkisah tentang seorang perempuan yang duduk sendiri di kedai sampai tengah malam, tanpa kopi, tanpa rokok, hanya kesendirian. Dia menanti seorang kekasih yang mungkin tak akan pernah datang. Lalu, seorang lelaki aneh dengan 100 Tahun Kesunyian-nya Marquez datang menghampiri dan mengobrol dengannya tentang kesunyian dan kematian.

Cerpen ini memuat dialog yang puitis antara keduanya. Saya suka dengan pesan yang ingin disampaikan penulis, dan suka pula dengan bagaimana cerita digulirkan untuk menyampaikan pesan tersebut. Ada kutipan yang saya suka banget di cerpen ini:
“ˢᵃʸᵃ ᵖⁱᵏⁱʳ, ᵏᵃᵘ ᵗᵃᵏ ᵖᵉʳˡᵘ ᵐᵉʳᵃˢᵃ ˢᵉᵖⁱ, ˢᵉᵇᵃᵇ ᵇᵃⁿʸᵃᵏ ʰᵃˡ ʸᵃⁿᵍ ᵇⁱˢᵃ ᵏᵃᵘ ᵐᵘⁿᶜᵘˡᵏᵃⁿ ᵈᵃʳⁱ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵖⁱᵏⁱʳᵃⁿᵐᵘ ˢᵉⁿᵈⁱʳⁱ.”
(ʰˡᵐ. 58)
.
Bisakah kau menebak siapa lelaki itu? Saya tidak kepikiran buat menebak karena telanjur menikmati dialog maupun monolog sang pencerita.

6. Dᴏsᴀ Asᴀʟɪ

Berkisah tentang bayi-bayi yang terlahir untuk menanggung dosa-dosa leluhurnya, dan mereka tak bisa lari dari keadaan itu.

Cerpen yang minim dialog dan terasa agak muter-muter dengan ending yang miris.

7. Sᴇʙᴀʙ Tᴇʟᴇᴠɪsɪ Bᴇʀʙɪɴɢᴋᴀɪ Bᴀɴɢᴋᴀɪ

Cerpen singkat tanpa dialog ini berisi monolog sang pencerita tentang orang yang dilihatnya di televisi. Saya membaca ini sebagai sebuah kritik sosial bahwa segemerlap siapapun yang kita lihat di televisi, kita nggak tahu apapun tentangnya, apakah dunia nyatanya sewangi kesturi atau sebusuk bangkai. Ini penafsiran saya aja, sih.

8. Rᴜᴍᴀʜ Kʀᴇᴍᴀsɪ

Cerpen ini dibuka dengan kalimat, “Jadi, bagaimana cara terbaik yang kau pilih untuk mati?” Rumah Kremasi merupakan nama grup diskusi yang menggelar pertemuan mingguan dan membahas cara mati dengan berbagai gaya. Mereka yang tak takut mati dan menantang eksistensi malaikat maut.

Di akhir cerita ada plot twist. Namun, karena saya nggak tahu penulis mau menggiring saya ke mana, cerpen ini jadi nggak begitu berkesan.

9. Sᴇᴘᴇʀᴛɪ B, Tɪᴅᴀᴋ Aᴅᴀ B

Saat mulai membaca ini, saya teringat bab pembuka Animal Farm-nya George Orwell. Bercerita tentang para B yang nggak terima nama B dijadikan umpatan oleh manusia. Mereka bermusyawarah untuk melakukan perlawanan terhadap manusia yang memaki menggunakan nama B.

Cerpen yang cukup menyentil sisi kemanusiaan saya. Saya suka, dan jadi teringat QS. 7 ayat 179.

10. Aᴍʏ

Amy adalah gadis buta penikmat senja yang kerap menanti senja di tepi danau tak bernama. Bira mendapatkan inspirasi lukisan dari sosok Amy, dan kemudian lukisannya lolos untuk dipamerkan. Namun, saat hendak menyampaikan kabar baik itu, Amy menghilang.

Cerpen yang manis dan sendu. Meski nggak wow, cerpen ini menutup kumcer ini dengan lembut.

***

Membaca kumcer Rumah Kremasi ini seperti membaca cerpen karya beberapa penulis. Tipe masing-masing cerpennya beda. Dalam buku ini, saya merasa penulis bereksperimen dengan berbagai macam gaya menulis.

Dari sepuluh cerpen yang ada, favorit saya ada tiga:
• Dongeng Mbah,
• Sembunyi di Tepi Jendela Lantai Dua, dan
• Jika Masih Ada Kedai yang Buka.

Ketiga cerpen ini disampaikan dengan sederhana dan punya pesan yang mudah ditangkap tetapi disampaikan dengan indah. Ah, iya, gara-gara cerpen ketiga di atas, saya jadi pengin baca 100 Tahun Kesunyian-nya Marquez. Penasaran seberapa kelam dan sunyinya isi novel tersebut.

Bagi kamu yang suka membaca cerpen layaknya cerpen-cerpen koran dan terkesan eksperimental, dengan cerita-cerita kelam, buku ini bisa kamu jadikan pilihan yang tepat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s